(Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog lama saya pada 5 Oktober 2006)
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
“Bacalah,” firman-Nya pada sang manusia mulia. Satu kata yang cukup mengagetkan sebab manusia mulia itu tidak mampu membaca sekalipun kecerdasannya luar biasa. Tidak demikian harfiah rupanya makna satu kata itu, melainkan ingin mengajak kita untuk bertamasya mengarungi indahnya samudera ilmu. Ya, ketakwaan akan memunculkan cinta. Manusia butuh untuk mencintainya, dan cinta akan tumbuh bersemi dalam perjalanan mengurai satu demi satu kecantikan tiap ciptaan-Nya. Membaca yang Ia ajarkan adalah melihat, mendengar, merasakan, kemudian mengurai dan merangkainya menjadi makna baru. Selayaknya orang yang dimabuk cinta, Ia ciptakan segala sesuatunya sempurna bagi mereka yang Ia cintai.
Read the rest of this entry »
