<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>AntZ Institute</title>
	<atom:link href="http://antzinstitute.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://antzinstitute.com</link>
	<description>Life and Leadership Transformation, One Person at a Time...</description>
	<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 07:50:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bagaimana Mencegah Kejahatan yang Memanfaatkan Trance?</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=196</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=196#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 07:50:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hypnosis]]></category>

		<category><![CDATA[belajar hipnosis]]></category>

		<category><![CDATA[belajar hipnotis]]></category>

		<category><![CDATA[hipnosis]]></category>

		<category><![CDATA[kejahatan hipnotis]]></category>

		<category><![CDATA[mencegah hipnotis]]></category>

		<category><![CDATA[pakar hipnosis]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
Artikel ini saya tulis sebagai rangkuman berbagai diskusi yang terjadi baik di milis Indonesia NLP Society, halaman Facebook saya, kelas yang saya isi, dan beberapa teman yang kontak langsung. 
Apakah kejadian yang beberapa kali muncul di berita ini menggunakan hipnosis?
Terus terang, informasi saya terbatas, karena saya belum berkesempatan untuk ketemu langsung dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Artikel ini saya tulis sebagai rangkuman berbagai diskusi yang terjadi baik di milis Indonesia NLP Society, halaman Facebook saya, kelas yang saya isi, dan beberapa teman yang kontak langsung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Apakah kejadian yang beberapa kali muncul di berita ini menggunakan hipnosis?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Terus terang, </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">i</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">nformasi saya terbatas, karena saya belum berkesempatan untuk ketemu langsung dengan korban, apalagi pelaku yang katanya sudah tertangkap sebagian. Maka, penilaian saya ini sifatnya sementara sebab hanya didasarkan pada Informasi terbatas dari televisi dan rekaman videonya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN"><span id="more-196"></span>Jawaban saya: ya dan tidak. Ya, jika hipnosis hanya dipandang sebagai sebuah fenomena <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> semata. <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Trance</em> adalah fenomena alamiah manusia, ketika seseorang berada dalam kondisi pikiran yang sangat terfokus, sangat rileks. Dalam kondisi ini, pikiran kritis ter-<em style="mso-bidi-font-style: normal;">by pass</em> karenanya seseorang dapat merespon berbagai stimulus berupa sugesti dan memunculkan perilaku seolah tanpa disadari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Tanpa disadari?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya, karena lebih banyak perilaku manusia terjadi tidak disadari, dan jauh lebih sedikit yang disadari. Sebagai contoh, saat seseorang dipanggil oleh bosnya dengan nada suara tertentu, ia tidak sekedar menyahut. Tapi bisa langsung segera menyiapkan laporan yang memang sedang ditunggu-tunggu. Nah, dia ini <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em>. Sebab mestinya respon yang dilakukan secara sadar kan cukup menyahut. Tapi tanpa ia sadari, ia melakukan berbagai aktivitas untuk menyiapkan laporan secara otomatis, tanpa perlu berpikir secara ‘sadar’. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Kata ‘sadar’ sengaja saya beri tanda kutip, karena memang sampai sekarang ada banyak penafsiran. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan sadar? Sebab setiap kali seseorang baru belajar hipnosis, ia pasti mengatakan, “Saya sadar sepenuhnya kok. Ingat betul apa yang dikatakan oleh terapis saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya memang demikianlah. Orang yang mengalami hipnosis pasti sadar sepenuhnya apa yang terjadi. Ia mengikuti sugesti karena memang ia memutuskan untuk demikian, karena memang ia mengizinkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Jadi, orang dihipnosis itu sadar atau tidak?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Saya katakan, sadar. Hanya sadar pada hal yang berbeda dari yang biasa ia sadari. Semisal, sebelum membaca tulisan ini Anda sedang menyadari pekerjaan Anda, maka saat membaca tulisan ini (yang sedang membuat Anda <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em>), maka Anda jadi menyadari apa yang Anda baca, namun pada saat yang sama tidak menyadari pekerjaan Anda. Sama persis dengan ketika Anda sedang terpaku pada tayangan di televis</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">i</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">, sampai-sampai tidak menyahut saat kawan Anda menyapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Maka orang yang menjadi korban kejahatan biasanya sadar akan apa yang terjadi, hanya ia belum sadar jika ia sedang dikerjai. Ia hanya sadar sedang berbuat sesuatu, namun belum tahu makna dari kegiatannya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Sebagai contoh, ada orang yang sedang memikirkan masa berlaku kartu jaminan asuransinya, tiba-tiba diminta oleh petugas bank untuk menunjukkan KTP, lalu yang ia tunjukkan adalah kartu asuransinya. Seperti itu pula lah yang terjadi dengan seseorang yang ditepuk, lalu si penjahat mengucapkan berbagai hal yang membingungkan, sang korban merasa “hang”, dan akhirnya mengikuti instruksi penjahat tersebut. Atau segerombolan penjahat mengepung seseorang dan melakukan berbagai aktivitas yang membingungkan, lalu di tengah kebingungan itu ia pun mengikuti instruksi yang diberikan. </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ada banyak teori yang bisa menjelaskan mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Namun karena saya tidak ingin menjadikan bahasan ini terlalu rumit, maka kita ambil gampangnya saja. Pikiran manusia beroperasi layaknya sebuah <em style="mso-bidi-font-style: normal;">loop</em> dalam program komputer. Sekali dinyalakan, maka ia harus tuntas. Jika tidak tuntas, atau dihentikan tiba-tiba, ia akan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang</em>. Dalam kondisi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang</em> alias nggantung inilah pikiran manusia terbuka untuk berbagai sugesti. Dari ranah psikologi kognitif kita belajar tentang <em style="mso-bidi-font-style: normal;">cognitive dissonance</em> alias sebuah kondisi pikiran yang tidak setimbang dan berusaha menyeimbangkan dirinya. Dan tepukan, pertanyaan terbuka, pembingungan, adalah beberapa cara yang bisa digunakan untuk menciptakan kondisi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang</em> ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Loh, katanya hipnosis baru bisa bekerja atas persetujuan klien? Kenapa yang model <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang </em>begini bisa jalan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ya, hipnosis baru bisa berjalan dengan persetujuan klien. Maka dari itu, para penjahat menggunakan pola kalimat yang sudah disusun sedemikian rupa sehingga klien setuju tanpa menyadari bahwa ia sedang ditipu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Misalnya, kalimat “Serahkan uang Anda 10 juta” tentu akan menimbulkan resistensi. Tapi kalau polanya diganti dengan, “Ibu dapat hadiah 1 miliar nih. Untuk mencairkannya cukup transfer ke rekening ini sejumlah 10 juta,” tentu akan lain ceritanya, padahal esensi keduanya sama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Cukup ya contohnya, karena saya tidak ingin justru jadi inspirasi bagi orang yang berniat jahat. Yang ingin tahu lebih lanjut mari kita kopi darat saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pada intinya begini. Level kesadaran manusia itu berlapis. Sekiranya sesuatu masih berada di batas norma, maka ia sangat mungkin ditembus. Namun jika sudah masuk ke dalam level keyakinan, maka umumnya manusia punya mekanisme pertahanan diri yang kokoh. Dan memang inilah salah satu fungsi pikiran asadar (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">unconscious</em>), melindung sang diri dari berbagai hal yang mengancam. Misalnya, Anda buat seseorang <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> lalu minta dia untuk telanjang di depan umum. Saya jamin sangat sulit, kalau enggan mengatakan tidak bisa. Namun dengan sedikit trik dan “kesabaran” pelaku, seorang lelaki bisa mengajak seorang gadis berhubungan seksual di luar nikah secara suka rela. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pake hipnosis? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Nggak perlu. Pake rayuan biasa—yang tentunya juga punya efek <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em>—juga bisa. Bukankah Anda pernah mendengar ABG yang menikah karena hamil sebelum menikah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sisi lain</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">, fakta seperti ini pula lah yang menjelaskan mengapa para korban, cepat atau lambat, pasti akan sadar akan apa yang terjadi pada mereka, karena sugesti yang dimasukkan memang tidak permanen, akibat berlangsung dengan sangat cepat. Sebab jika tidak cepat dan pakai <em style="mso-bidi-font-style: normal;">post hypnotic suggestion</em> segala, tentu korban akan cepat sadar sedang dikerjai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Lalu, bagaimana dengan jawaban yang “tidak”? Alias kejahatan tersebut bukanlah menggunakan hipnosis?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Penjelasan saya seperti ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Kata “trance” sudah ada dalam bahasa Inggris sejak dulu. Dalam banyak novel berbahasa Inggris, kata ini banyak digunakan, menandakan<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>ia adalah kondisi alamiah yang memang sudah disadari oleh manusia sejak dulu kala. Sementara itu, kata hipnosis sendiri adalah kata gubahan James Braid, memodifikasi nama <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Hypnos</em> sang dewa tidur. Yang kemudian ketika disadari tidak tepat mewakili ilmu yang sebenarnya, maka ia ganti menjadi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">neurypnology</em>. Cuman karena kata hipnosis sudah kadung popular, plus (mungkin) kata penggantinya relatif kompleks, maka sampai sekarang orang mengenal ilmu ini sebagai hipnosis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Nah, maka saya pribadi berpendapat bahwa hipnosis adalah ilmu yang memanfaatkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> secara sistematik dan saintifik. Sehingga, sebuah kejahatan baru bisa disebut sebagai kejahatan hipnosis jika memang pelakunya secara sadar menggunakan ilmu sistematik ini yang juga ia pelajari secara sistematik. Namun karena fenomena <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> adalah fenomena alamiah, maka sangat mungkin ada banyak orang yang mampu memanfaatkannya tanpa belajar ilmu hipnosis. Nah, dalam konteks inilah saya tidak sepakat jika dikatakan kejahatan penipuan dan perampokan sebagai kejahatan hipnosis. Kecuali jika memang pelakunya tahu persis ilmu hipnosis ini.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Penjelasan yang terakhir ini saya anggap perlu, agar masyarakat dapat menilai hipnosis secara <em style="mso-bidi-font-style: normal;">fair</em> dan tidak <em style="mso-bidi-font-style: normal;">gebyak uyah</em> alias menyamaratakan semua praktisi hipnosis. Bahwa mungkin saja ada praktisi hipnosis bersertifikat yang melakukan kejahatan, tentu mungkin-mungkin saja. Meskipun menurut saya ia kurang cerdas. La wong hasil ngobyek di ruang praktik jauh lebih gedhe dan halal kok. Hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Anyway, </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">sebuah </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">pertanyaan </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">yang jauh lebih penting </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">kemudian adalah: bagaimana mencegah dan mengatasinya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya sama dengan cara mencegah dan mengatasi kondisi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> lain. Berikut ini tips dari saya, melengkapi tips dari para pakar dan kawan-kawan yang juga sudah mempublikasikan pemikirannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Waspada</span></strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Apa sih waspada? Dalam bahasa NLP, waspada adalah kondisi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">uptime</em>, yakni ketika seluruh pikiran dan perasaan kita fokus pada hal-hal yang ada di luar diri. <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Trance</em> terjadi ketika Anda mulai “masuk” alias berpikir ke dalam diri. Bagi orang yang berpengalaman, akan sangat mudah menandai apakah seseorang sudah <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> atau belum. Kegiatan seperti bengong, melamun, SMS-an, BBM-an, dkk jelas masuk dalam kategori <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> karena seseorang umumnya sedang membayangkan sesuatu, mendengarkan sesuatu (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">self talk</em>), atau merasakan sesuatu dalam dirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Nah, maka dari itu, mulai sekarang dan seterusnya, setiap kali Anda berada di tempat-tempat umum, usahakan untuk sesedikit mungkin berpikir ke dalam. Sadari apa yang ada di sekeliling. Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, rasakan apa yang Anda rasakan, di luar diri Anda. Anda akan merasakan tubuh Anda dalam kondisi yang seimbang. Efeknya adalah ekspresi Anda yang juga berubah menjadi lebih percaya diri, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">firm</em>. Maka kemungkinan Anda untuk jadi sasaran pun lebih kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Berdoa</span></strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Jika Anda sudah biasa berdoa sebelum berpergian, silakan sadari apakah setelah berdoa Anda menjadi lebih waspada dan yakin dengan diri Anda. Jika sudah, bagus. Jika belum, maka Anda perlu berdoa dengan penghayatan yang lebih dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Caranya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Sebelum keluar rumah, duduk atau berdiri dengan tenang dan rileks. Bacalah doa dengan perlahan, hayati maknanya. Hadirkan rasa aman karena merasa yakin akan perlindungan Tuhan. Tuhan selalu punya skenario yang seringkali belum bisa kita pahami. Maka apapun yang terjadi adalah skenarioNya. Pun jika ada sesuatu yang tidak Anda inginkan terjadi, yakinlah bahwa Dia punya maksud baik. Tidak ada satu orang pun yang bisa menjahati Anda jika bukan karena izinNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Mungkin Anda merasakan perasaan aman dan nyaman ini di satu titik di tubuh Anda. Maka silakan sebarkan ke seluruh tubuh. Dan rasakan ia membentuk selubung yang melindungi diri Anda. Semisal, saya biasa mengucapkan “Allahu Akbar” dan membayangkan sebuah selubung melindungi diri saya, sehingga saya begitu kecil. Jika saya kecil, maka orang lain pun kecil di hadapan kebesaran Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Sesampainya di tempat tujuan, Anda dapat melakukan proses berdoa yang sama untuk menjalankan aktivitas Anda. Semisal, Anda bekerja di kantor, toko, dll. Maka berdoalah agar pekerjaan Anda lancar dan aman serta mendatangkan banyak rezeki yang halal. Wah, bonus nih. Hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Lakukan semua prosedur.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Banyak kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat jahat pelakunya, tapi juga karena ada kesempata. Begitu kata Bang Napi. Jadi, jalankan berbagai aturan yang ada sesuai aturannya. Baik itu di pekerjaan atau jalanan. Sebab melanggar aturan sejatinya menggoyahkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">state</em> yakin Anda, tanpa Anda sadari. Misalnya, seorang kawan nekat melanggar lampu merah. Baru lewat, eh, ketahuan sama Pak Polisi. Karena takut, akhirnya ia menuruti semua perkataan beliau. Pun ketika akhirnya diminta untuk “berdamai” saja. Hehehe… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Terdengar<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>familiar? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya. Saya pun pernah mengalaminya. Saya menurut karena saya merasa bersalah. Maka keyakinan saya pun goyah. Nah, kondisi goyah seperti ini sangat mudah dikenali oleh pelaku kejahatan, untuk kemudian dimanfaatkan olehnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Intinya, menjalankan segala sesuatu sesuai prosedur memberikan Anda ketenangan dan keyakinan, dan ujungnya, kewaspadaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Cermati Tanda-tanda <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Trance</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Meskipun <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></strong>sudah waspada, bukan tidak mungkin jika pelaku tetap nekat untuk mengerjai Anda. Saya pun mengalaminya beberapa kali. Modusnya macam-macam, </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">seperti sudah saya jelaskan di atas, </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">namun prinsipnya adalah mereka selalu melakukan sesuatu yang mengajak Anda untuk masuk ke dalam, alias <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> tadi itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Caranya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Membuat bingung. Misalnya dengan mengerumuni seseorang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Membuat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang</em>. Umumnya dengan menepuk bahu, menginjak kaki, mengajak bersalaman lalu melakukan gerakan lain, dll.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Membuka <em style="mso-bidi-font-style: normal;">loop</em>. “Eh, apa kabar? Udah lama nggak ketemu nih.” Pernyataan seperti ini akan membuat pikiran kita “terbuka” dan berusaha mencari sesuatu Informasi yang bisa menutupnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Dan banyak cara lain. Kejadian di Lampung itu sepertinya menggunakan berbagai kombinasi pola sehingga efeknya semakin kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Apa dong yang mesti dilakukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Katakan pada diri Anda,”Tenang…tenang…tenang. Waspada!” sambil Anda mengatur nafas Anda, dan berikan hentakan pada kata terakhir. Stop “masuk” ke dalam, dan fokus ke luar, yang ada di sekeliling Anda. Setelah itu Anda sudah bisa mengendalikan diri Anda lagi, dan segera ambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah efek kejahatan (jika memang ada indikasi kesana).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Saya ingat pernah menerima sebuah telepon yang menggunakan metode membuka <em style="mso-bidi-font-style: normal;">loop</em>. Begitu menyadari mulai <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em>, saya pun segera melakukan hal di atas, sehingga bisa balik mengerjai sang penelepon. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Halo, siapa nih?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Halo! Apa kabar? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya, ini siapa?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ah, lupa sama temannya. Kalau ada perlu aja baru ngontak. Sekarang lupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Siapa ya?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Coba siapa coba. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Siapa sih?</span></em><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Coba siapa temen yang di kepolisian?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">(Di titik ini saya mulai sadar, dan berhasil melakukan utilisasi) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ooooh…Bejo! Apa kabar lu? Ah, belagu amat pake logat Batak segala!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Eh, bukan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Alah…gw apal kok aslinya elu. Mau apa? Pake ngaku-ngaku dari kepolisian lagi. </span></em><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Heh! Kamu jangan main-main ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Gini aja deh. Lu tahu siapa gua? Nanti gw kontak deh bos lu. Kalau lu butuh duit bilang aja. Dan cari yang halal.</span></em><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Tuuuuuut…dan telepon pun ditutup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Alhamdulillah, saya dan kawan saya selamat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Kejadian lain dialami oleh seorang kawan di ATM. Saat ia ditepuk, menoleh, lalu ditegur dengan heboh, “Oi! Sombong amat sama teman lama!”, kawan saya sempat tertegun. Namun seketika sadar ia tidak mengenali orang tersebut, ia pun membalas dengan tepukan yang <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">lebih keras</strong> ke tangan sang pelaku, “Ah, sok kenal lu! Sana!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Sang pelaku pun bengong sambil megang tangannya yang sepertinya kesakitan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Demikianlah. Karena <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> adalah kondisi alamiah, maka setiap orang, praktisi hipnosis sekalipun, selalu bisa mengalaminya. Jika langkah-langkah preventif sudah dilakukan, maka pasrahkan saja semuanya. Jalani hidup dengan tenang dan ikhlas. Kalaupun kena juga, tentunya ada maksud baik Tuhan agar kita belajar sesuatu. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=196</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tuhan Yang Romantis</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=186</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=186#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 04:25:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gratitude]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[ibadah]]></category>

		<category><![CDATA[mencintai]]></category>

		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog lama saya pada 5 Oktober 2006)
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
&#8220;Bacalah,&#8221; firman-Nya pada sang manusia mulia. Satu kata yang cukup mengagetkan sebab manusia mulia itu tidak mampu membaca sekalipun kecerdasannya luar biasa. Tidak demikian harfiah rupanya makna satu kata itu, melainkan ingin mengajak kita untuk bertamasya mengarungi indahnya samudera ilmu. Ya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog lama saya pada 5 Oktober 2006)</p>
<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><span style="font-family: trebuchet ms;">&#8220;Bacalah,&#8221; firman-Nya pada sang manusia mulia. Satu kata yang cukup mengagetkan sebab manusia mulia itu tidak mampu membaca sekalipun kecerdasannya luar biasa. Tidak demikian harfiah rupanya makna satu kata itu, melainkan ingin mengajak kita untuk bertamasya mengarungi indahnya samudera ilmu. Ya, ketakwaan akan memunculkan cinta. Manusia butuh untuk mencintainya, dan cinta akan tumbuh bersemi dalam perjalanan mengurai satu demi satu kecantikan tiap ciptaan-Nya. Membaca yang Ia ajarkan adalah melihat, mendengar, merasakan, kemudian mengurai dan merangkainya menjadi makna baru. Selayaknya orang yang dimabuk cinta, Ia ciptakan segala sesuatunya sempurna bagi mereka yang Ia cintai.<br />
<span class="fullpost"><br />
</span></span><span id="more-186"></span><span style="font-family: trebuchet ms;"><span class="fullpost">&#8220;Wahai manusia yang berselimut,&#8221; panggil-Nya satu kali pada sang manusia mulia. Seolah memanggil sang kekasih dengan ungkapan yang begitu lembut, menyentuh. Membangunkannya di malam yang sunyi, demi menenangkan hatinya yang gundah setelah sekian lama tak bersua. Dijanjikan-Nya surga bagi tiap orang yang setia pada cinta-Nya, membela ajaran-Nya, rela mati demi-Nya. Sesekali memang Ia marah, tapi kudengar, rahmat-Nya mendahului murka-Nya.</span></span></p>
<p>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman,&#8221; seru-Nya pada berjuta kekasih yang bertebaran di muka bumi. Mereka bukanlah manusia biasa, mereka orang-orang yang cinta mati kepada-Nya. Demikianlah hakikat keimanan, ia meyakini, memasukkan ke dalam lubuk hati, dan menjadikannya mengalir dalam darah serta mewujudkannya dalam gerak laku. Manusia-manusia seperti ini tidak selayaknya dipanggih dengan sebutan &#8220;Wahai manusia&#8221;, &#8220;Wahai orang-orang beriman&#8221; adalah panggilan yang penuh kasih sayang.</p>
<p>Sebagaimana seorang kekasih selalu ingin merawat dan menjaga kekasihnya. Ia ciptakan beragam ritual untuk menjadikan sang kekasih bersih, sehat, dan selalu indah. Syahadat adalah janji setia sehidup semati. Shalat adalah kencan berdua untuk memadu cinta. Puasa adalah ibadah rahasia, layaknya dua kekasih yang memiliki rahasia mereka sendiri. Puasa pula yang membersihkan sang kekasih dari kotoran-kotoran yang menutupi kemurnian cinta. Zakat adalah cara-Nya mempertautkan jutaan kekasihnya dalam bingkai persaudaraan. Haji adalah pesiar pengabdian total. Dengannya Ia menjadikan sang kekasih lebih kuat dan matang. Demikianlah, Ia membuat semuanya seimbang. Terkadang Ia bermesraan berdua, terkadang ia kumpulkan semuanya untuk menikmati saat-saat itu bersama. Sang kekasih tidak perlu cemburu, sebab selalu ada banyak waktu untuk bercumbu, sedang cinta-Nya tidak terbatas dan terasa amat personal.</p>
<p>Hmm&#8230;kuresapi setiap hal yang Ia ajarkan, kurasakan ia adalah Tuhan yang romantis&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=186</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jatuh Cinta Lagi&#8230;</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=183</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=183#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 04:39:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Family and Relationship]]></category>

		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[ahli nlp]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[mencintai]]></category>

		<category><![CDATA[nlp bahasa indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[nlp dan cinta]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[ 

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
Wit ing trisno, jalaran sako kulino.
Demikian bunyi pepatah Jawa yang seringkali saya dengar. Secara bebas, ia dapat diterjemahkan dengan: pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Umumnya, pepatah ini muncul untuk mengomentari pasangan suami-istri yang menikah setelah menjadi teman cukup lama (misalnya, teman sekantor, satu sekolah, dll). Karena sering bertemu dan berbagi cerita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Wit ing trisno, jalaran sako kulino</span></em><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Demikian bunyi pepatah Jawa yang seringkali saya dengar. Secara bebas, ia dapat diterjemahkan dengan: <em>pohon cinta tumbuh karena terbiasa</em>. Umumnya, pepatah ini muncul untuk mengomentari pasangan suami-istri yang menikah setelah menjadi teman cukup lama (misalnya, teman sekantor, satu sekolah, dll). Karena sering bertemu dan berbagi cerita, pasangan-pasangan ini pun rupanya juga berbagi rasa, yang berujung pada pernikahan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-183"></span><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Saya ingat betul pepatah ini, karena saya pun mengalami hal yang sama. Pertama kali mengenal istri saya, saya belum menunjukkan ketertarikan untuk menjadikannya sebagai pasangan hidup. Begitu pula sebaliknya. Namun seiring waktu berjalan, persahabatan yang kami bina akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta yang entah kapan kami tebar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Entah mengapa beberapa waktu belakangan<span> </span>pepatah Jawa yang satu ini mencuat kembali dalam benak saya. Bedanya, saya menyadari makna yang berbeda. Ia bukan lagi sekedar menjelaskan tentang romantika cinta sahabat yang menjadi kekasih, namun lebih jauh dari itu. Ia justru merupakan sebuah nasihat yang teramat dalam bagi para pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah, untuk terus menyemai cinta sampai akhir hayat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kok? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ya. Pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Dimulai dari menanam bibit, memupuk, menyirami, hingga menjaganya dari serangan hama, proses menumbuhkan dan memelihara pohon persis seperti proses menumbuhkan dan memelihara cinta. Jika kita ingin sebuah pohon tetap berbuah, maka tiada lain yang bisa dilakukan selain terus melanjutkan proses pemeliharaan sepanjang hayat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Maka pepatah ini menjadi sangat relevan bagi para pasangan yang sudah menikah beberapa tahun (atau bertahun-tahun) dan merasakan kehampaan, <em>flat</em>, bahkan kebosanan. Yang muncul seringkali adalah kalimat:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Cinta kami sudah mulai pudar. Saya merasa kehilangan rasa cinta. Tidak seperti dulu lagi. Saya tidak mencintainya lagi. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dan seterusnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Well, maaf jika saya mengecewakan Anda yang barangkali mengatakan kalimat-kalimat seperti itu. Tapi saya katakan, “Bukan cinta yang hilang. Bukan cinta yang mati. Tapi cinta yang sudah tidak Anda pupuk sejak lama, hingga ia perlahan-lahan kering layaknya pohon, berhenti berbuah, dan berakhir pada kematian.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ya. Mereka yang merasa kehilangan rasa cinta sejatinya tidak lah kehilangan rasa cinta. Melainkan membiarkan cinta itu tak terpelihara, sehingga ia menguap dan mati. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">“Love is a verb,” </span></em><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">nasihat dari salah seorang guru saya. Belakangan, saya menemukan kalimat ini begitu popular, bahkan menjadi salah satu judul buku penulis kondang sekaligus konselor perkawinan, Gary Chapman. Siapapun yang pertama kali meneluarkan kalimat indah ini, saya sepakat. Seribu persen sepakat!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kok?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ya. Seperti yang saya tulis di artikel soal cinta sebelumnya, “Everyday I Love You”, cinta memang sebuah nominalisasi. Sebuah kata kerja atau kata proses yang dibendakan, sehingga<span> </span>seolah ia adalah benda mati yang tak bisa berubah. Padahal, jelas tidak ada benda bernama cinta, yang bisa datang dan pergi, hilang dan kembali. Yang ada adalah cinta yang ditumbuhkan, dipelihara. Ketika dibiarkan, jangan heran jika ia redup dan mati. Maka memahami cinta seperti ini membuat saya yakin betul bahwa cinta memang tak lain sebuah proses mencintai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ah, cukup ah teorinya. Praktiknya gimana donk? Biar kita bisa menumbuhkan dan memelihara cinta setiap saat? Biar cinta kita tidak gersang dan mati?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Yuuuk…mari…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Latihan berikut ini bisa Anda lakukan sendiri, atau dibantu oleh <span> </span>orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ambil posisi duduk yang rileeeeeks dan santaaaai. Duduk yang nyaman. Boleh sambil buka atau tutup mata, yang mana yang membuat lebih mudah berkonsentrasi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sambil menikmati nafas yang masuuuuk, keluaaar, masuuuuk, dan keluaaaar, silakan mengingat kembali saat Anda merasakan perasaan cinta yang begitu mendalam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Setiap orang tentu memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Dan saya menemukan beberapa cirinya adalah perasaan tenang, ikhlas, lega, dikarenakan telah memberikan apa yang Anda berikan pada orang yang Anda cintai, sepenuhnya. Ya, cinta adalah hasil dari proses memberi secara tulus. Sehingga ia tidak memiliki kaitan dengan apapun yang akan Anda terima setelahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Cinta juga tidak ada hubungannya dengan nafsu. Nafsu memiliki, apalagi nafsu seksual. Cinta adalah sebuah perasaan yang murni, nyaman, dan berdiri sendiri. Tidak tergantung pada syarat apapun. Cinta adalah perasaan yang sederhana. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Aha, Anda sudah mulai merasakannya? Bagus sekali. Bagaimana rasanya di pikiran Anda? Di tubuh? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Di bagian mana saja tepatnya Anda merasakannya? Tentu setiap orang unik. Saya sendiri merasakan sebuah perasaan yang mengalir, nyaman, dari diri saya kepada orang yang saya cintai. Anehnya, semakin saya memasrahkan untuk memberi rasa cinta ini, semakin kuat gelombang yang kembali kepada diri saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Maka yang kemudian saya rasakan biasanya adalah perasaan tersambung. Koneksi perasaan yang kuat antara saya dan dia. Sehingga apapun yang saya alami ketika bersamanya, pahit ataupun manis, selalu menghadirkan perasaan cinta baru. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Seorang sahabat pernah mengajarkan, “Setiap konflik dalam percintaan adalah jalan untuk memperbarui cinta. Cinta yang lebih kokoh dari sebelumnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Maka saya penasaran, bagaimana Anda merasakan semuanya dalam pikiran dan tubuh Anda. Bagaimana perilaku Anda berubah karenanya? Seberapa tenang Anda menjalani kehidupan Anda berbekal dengannya? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Nah, sementara Anda terus menikmati apa yang Anda rasakan sekarang, bukankah Anda ingin menyimpannya di dalam diri Anda? Menyimpan perasaan ini di suatu tempat di dalam diri, yang dapat dengan mudah Anda akses, kapan pun Anda membutuhkannya. Sehingga bahkan tanpa perlu Anda sadari, ia dapat muncul dengan sendirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Lanjutkan proses ini hingga Anda selesai. Dan Anda boleh membuka mata lalu kembali ke ruangan ini sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Nah, bukankah ia begitu indah sampai-sampai Anda tak ingin membuka mata? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ya, demikianlah yang saya rasakan, setiap kali saya melakukannya, setiap minggu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Setiap minggu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ya iya lah. Memelihara pohon saja harus disirami setiap hari. Apalagi cinta? Yang efeknya jauh lebih besar untuk hidup kita? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Anda bisa melakukannya satu demi satu untuk setiap orang yang Anda cintai, ataupun sekaligus, misalnya sekalian untuk satu keluarga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Nah, ini yang anehnya nih. Meskipun saya hanya melakukannya untuk beberapa orang saja, saya jadi lebih mudah memunculkan rasa cinta ini untuk hal-hal lain. Misalnya, mencintai pekerjaan. Meskipun dengan kadar yang tentunya berbeda. Buktikan sendiri deh. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dan, seiring dengan proses latihan yang Anda lakukan terus-menerus setelah ini, Anda bisa jadi tidak memerlukan langkah-langkah formal seperti yang Anda jalani sebelumnya. Karena ia bisa muncul hanya dengan Anda cukup memikirkannya saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Tips nih. Setiap kali muncul perbedaan pendapat, pertengkaran, dan lain sebagainya, aksesnya perasaan ini sebelum Anda melanjutkan proses perdebatan itu. Sehingga alih-alih menjadi ‘pembunuh’ cinta, proses tersebut malah akan semakin menguatkan cinta Anda. Sebab bukan cinta sejati jika baru dirasakan saat kondisi senang saja. Baru disebut cinta sejati jika ia dapat dirasakan dalam kondisi apapun, susah dan senang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Selamat mencinta!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=183</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Everyday I Love You…</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=180</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=180#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 07:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Family and Relationship]]></category>

		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[cinta spiritual]]></category>

		<category><![CDATA[love]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
 

Judul di atas mungkin mengingatkan Anda pada sebuah lagu. Lagu yang cukup populer beberapa tahun lalu, plus merupakan sedikit lagu yang saya sukai yang dinyanyikan oleh kalangan boyband. Maka sembari Anda mengingat bagaimana lagu tersebut dinyanyikan, plus merasakan suatu sensasi tertentu dalam tubuh dan pikiran Anda, saya akan menceritakan mengapa saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<p><mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Judul di atas mungkin mengingatkan Anda pada sebuah lagu. Lagu yang cukup populer beberapa tahun lalu, plus merupakan sedikit lagu yang saya sukai yang dinyanyikan oleh kalangan <em>boyband.</em> Maka sembari Anda mengingat bagaimana lagu tersebut dinyanyikan, plus merasakan suatu sensasi tertentu dalam tubuh dan pikiran Anda, saya akan menceritakan mengapa saya memilih tema cinta untuk artikel saya kali ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ya, cinta adalah sesuatu yang unik untuk dibicarakan. Bukan saja ia adalah tema yang begitu marak dibahas dalam keseharian, ia adalah sebuah ranah yang seringkali dipahami secara parsial. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-180"></span><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Saya teringat ajaran bijak dari Almarhum Buya Hamka, sang ulama fenomenal penulis Tafsir Al Azhar. Bahwa cinta memberimu energi, alih-alih melemahkanmu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Walah, la saya jadi bingung ini. Yang saya tahu, kalau dulu saya atau teman-teman saya lagi jatuh cinta, maka pikiran melayang kemana-mana, tubuh terasa loyo, sehingga produktivitas malah menurun drastis. (nostalgia mode on…)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Lalu mengapa Buya Hamka malah mengatakan kalau cinta itu memberi energi begitu besar bagi kita? Seharusnya kalau punya energi segitu besar, maka bukannya loyo, justru kita bisa meningkatkan produktivitas berkali-kali lipat donk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Lalu mengapa ada sepasang suami istri yang saling mencintai, lalu pada titik tertentu justru merasa kehilangan cinta dan memilih untuk bercerai? Padahal semestinya cinta memberi keduanya energi besar untuk mempertahankan rumah tangga, dengan berbagai romantika yang telah dibangun, apapun yang terjadi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, karena saya adalah NLPers, maka saya pun memulai perjalanan saya untuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas dengan menggunakan khasanah NLP yang ciamik ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Apa sih cinta menurut NLP?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Walah, ya ndak tahu. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Kok ndak tahu?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">La NLP itu siapa juga saya belum pernah ketemu. Maka bisa saya cerita dia punya pendapat apa tentang cinta?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Maka cara yang saya anggap paling mudah adalah dengan melakukan <em>self modeling</em> terhadap pengalaman cinta yang saya alami. Untuk memulai, saya pilih cinta yang saya rasakan pada mantan pacar saya, yang kini telah memberi saya 1 orang anak. Hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Saya ingat-ingat, saat saya jatuh cinta, sekarang, ada sebuah sensasi yang aneh dalam diri saya. Campuran dari rasa gembira, cemas, memiliki, semangat, dan lain-lain yang saya tidak bisa jelaskan satu per satu, kecuali bahwa saya mengetahui bahwa ia berbeda dari perasaan-perasaan lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Aha! Anda familiar dengan kalimat terakhir di atas, bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Yes, cinta adalah sebuah <em>state of mind</em>. Sebuah kondisi pikiran-perasaan yang sensasinya terasa dalam tubuh sebagai hardware-nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Apakah hanya itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Mmm…saya pun kemudian mengajukan beberapa pertanyaan dengan kerangka Neurological Level. Dan wuih! Canggih betul! Rupanya cinta yang saya alami bukan sekeder sebuah <em>state of mind</em> yang berada di level <em>behavior atau capability</em>, melainkan jauh tinggi hingga level <em>belief</em>, <em>identity</em>, hingga <em>spirituality.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Di level <em>belief</em> saya meyakini bahwa perasaan cinta yang saya semai bersama istri saya membuat hidup saya lebih hidup. Ia adalah sebuah program yang begitu kokoh, sehingga membuat saya menafikan berbagai hal lain yang memungkinkan saya tidak mencintainya. Semisal, berbagai hal yang kurang saya sukai sangat sulit untuk saya ingat-ingat, sementara hal-hal yang saya sukai begitu mudah saya ingat. Yang belakangan ini saya sering katakan pada teman-teman peserta di kelas Practicing NLP Course, bahwa kalau orang sudah cinta, maka ia seringkali lupa kalau suami/istrinya suka ngupil, bangun siang, malas gosok gigi, dan lain sebagainya. Hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sementara itu, saya pun merasakan bahwa cinta memberi saya identitas diri. Saya adalah makhluk suami pecinta. Saking demikian, saya seringkali begitu mudah merasa bersalah ketika melakukan sebuah perilaku yang tidak masuk daftar perilaku seorang pecinta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Namun demikian, ada lagi yang lebih tinggi. Sebuah level yang baru saya pahami kurang lebih setahun terakhir, saat saya mulai memahami perintah Tuhan yang mengatakan, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Maka cinta saya pada istri saya adalah perwujudan ketundukan saya untuk beribadah kepada-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Walah, kok kayaknya berat beneeer ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Hehe…nggak kok. Ini sederhana saja. Sangat sederhana bahkan. Saya tuh begitu meyakini bahwa Tuhan itu Maha Besar, Maha Kuasa. Maka Dia jelas tidak mungkin iseng atau salah menjodohkan, sehingga saya saat ini menikah dengan istri saya. Dia jelas punya skenario yang mesti saya jalani, saya alami, sampai saat saya dipanggil di usai waktu nanti. Maka jika saya kemudian merasa berat, atau kesal, atau marah, atau hal-hal lain yang kurang nyaman saya alami dalam pernikahan saya, jelas ia disebabkan karena belum mampunya saya memahami skenario yang Dia ciptakan. Maka dari itu perintah-Nya untuk “hanya beribadah tanpa mempertanyakan mengapa” menjadi masuk akal. Sebab bertanya mengapa akan menggiring saya pada jawaban-jawaban yang belum tentu masuk akal dengan kapasitas berpikir saya saat ini. Namun seiring dengan perjalanan waktu, baru lah saya bisa memahaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Eh, kok tiba-tiba sampai sini sih ngomongnya? Jadi caranya gimana donk biar bisa “everyday I love you”?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Tenaaang. Saya baru aja mau mulai nih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Berdasarkan pemahaman di atas, maka saya pun sampai pada kesimpulan bahwa cinta adalah sebuah kondisi yang bisa dikendalikan. Sebuah kondisi yang tidak terjadi begitu saja, melainkan kita diberi kemampuan untuk mengontrolnya. Maka apakah kita mencintai atau tidak mencintai bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Ia adalah sebuah <em>state of mind</em> yang sejatinya kita ciptakan sendiri, dan karenanya bisa kita bangkitkan kembali saat ia mulai meredup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Wah, mulai asyik nih</span></em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">. <em>Gimana tuh caranya?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Mari kita selami sama-sama. Jika Anda mencintai seseorang karena apa yang ia lakukan dan Anda kecewa saat ia kemudian melakukan hal lain yang tidak Anda inginkan, maka cinta Anda berada di level <strong><em>behavior</em></strong>. Sesuai ajaran Om Robert Dilts, sebuah kondisi di satu level biasanya bisa dikendalikan oleh kondisi di minimal satu level di atasnya. Dalam konteks<span> </span>contoh ini, adalah level <strong><em>belief</em></strong><em>. </em>Maka Anda perlu mengevaluasi kembali: apa yang Anda yakini tentang cinta? Apa yang cinta berikan pada Anda? Apa yang seharusnya Anda lakukan saat Anda mencintai?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, sebuah pelajaran yang baru-baru ini saya pahami tentang cinta adalah: <em>love is about giving</em>. Meyakini bahwa cinta adalah soal memberi, saya pun jadi lebih mudah menyemai buah cinta saya setiap kali sebuah ujian datang. Sebab saya jadi tidak peduli pada apakah saya akan menerima sesuatu atau tidak. Kenikmatan saya datang dari apa yang saya berusaha berikan. Anehnya, saat saya berlatih melakukan ini, yang saya dapatkan pun jauuuuuh lebih banyak, dan jauuuuuh lebih nikmat!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Lalu, bagaimana donk kalau ternyata ada orang yang memiliki keyakinan tentang cinta yang membuatnya kurang fleksibel dalam mencintai?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ya naik lagi deh, ke level<em> identity</em>. Silakan evaluasi identitas yang Anda pasang pada diri Anda. Masih terkait dengan pengalaman saya, karena saya mulai meyakini bahwa cinta adalah soal memberi, maka saya sebagai pecinta adalah seorang pemberi. Identitas diri saya adalah seseorang yang memang hanya fokus memberikan, tanpa peduli apa yang saya dapatkan. Saya adalah kantong bocor, yang memang sengaja saya bocorkan, agar saya tidak perlu menghitung-hitung berapa yang saya berikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Wuih, berat kah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ya, memang perlu latihan. Saya pun belum secara utuh, pun belum dalam semua konteks. Konon, orang-orang yang sudah mencapai level pencerahan sudah memiliki identitas seperti ini dalam semua konteks kehidupannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, bagaimana kalau yang “bermasalah” adalah identitas dirinya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ya naik lagi, ke level tertinggi, <em>spirituality</em>. Dalam konteks kisah saya, saya pun mulai melatih diri untuk menginstal bahwa saya mencintai istri saya karena saya mencintai Tuhan. Saat Anda mencintai seseorang, bukankah Anda akan menjaga baik-baik sebuah barang yang ia titipkan pada Anda, apapun caranya? Itu baru orang. La kalau Anda mencintai Tuhan, bukankah Anda akan menjaga suami/istri yang Ia amanahkan pada Anda, apapun caranya? Beranikah Anda seenaknya meninggalkan titipan-Nya begitu saja? Apalagi jika Anda meyakini bahwa Ia Maha Mengawasi setiap hal yang Anda lakukan? Apalagi jika Anda juga meyakini bahwa Ia selalu punya maksud baik dengan memasangkan Anda dengan titipan-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, kalau sudah begini, bukankah cinta adalah sesuatu yang mulia? Cinta bukan sekedar basa basi di lagu atau sinetron yang ujung-ujungnya hubungan fisik semata. Cinta meliputi segala hal yang saat ini ada dalam hidup dan kehidupan, yang merupakan titipan-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Tuing!!! Jreng!!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">AHA! Saya pun baru paham untaian hikmah dari Buya Hamka yang saya sebutkan tadi, bahwa cinta merupakan sebuah energi yang besar bahkan tak terbatas. Alih-alih loyo, cinta akan membuat seseorang selalu berada dalam <em>state of mind </em>terbaik, <em>peak performance</em>-nya untuk memberi tanpa pernah berharap menerima. Yang anehnya, saat hal ini dilakukan, ia justru tidak pernah berhenti menerima. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ah, bukankah lagu Boyzone yang satu ini memang indah? Saya tidak tahu Anda, yang jelas energi cinta saya seolah mengalir tiada henti saat saya mendengarkannya berulang-ulang dalam diri saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Hmmm…</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=180</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menclok: Cara Mudah Nikmati Jalanan</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=118</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=118#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 06:21:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[menclok]]></category>

		<category><![CDATA[nlp bahasa indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[perceptual position]]></category>

		<category><![CDATA[teknik nlp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
 
Sudah hampir 8 tahun sejak saya pertama kali belajar mengemudi mobil.Tiga tahun di antaranya benar-benar mengemudi setiap hari, dengan jarak tempuh 60 km pulang pergi setiap harinya. Maka hampir 4 jam setiap hari saya berada di jalanan, menyelami kemacetan bersama Si Ceri—nama untuk mobil Daihatsu Ceria kami. 
Ada begitu banyak pelajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sudah hampir 8 tahun sejak saya pertama kali belajar mengemudi mobil.Tiga<span> </span>tahun di antaranya benar-benar mengemudi setiap hari, dengan jarak tempuh 60 km pulang pergi setiap harinya. Maka hampir 4 jam setiap hari saya berada di jalanan, menyelami kemacetan bersama Si Ceri—nama untuk mobil Daihatsu Ceria kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ada begitu banyak pelajaran berharga, sebanyak jenis peristiwa yang acapkali saya alami. Macet, disenggol mobil lain, diserempet sepeda motor, dipotong secara tiba-tiba, dll. Itu yang kurang enaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Loh, kok kurang enak? Katanya NLPers itu bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya? Jadi semua hal itu enaaaak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Hehehe…memangnya NLPers nabi? Lah, nabi juga bisa kesal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-118"></span><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">OK, lanjuuut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sisi lain, saya pun cukup banyak menemui berbagai fenomena kebijaksanaan di jalan, yang membuat saya berpikir ulang tentang, “Mengapa Tuhan mengatur saya untuk hidup di Jakarta nan padat ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, kali ini saya hanya ingin fokus saja, bercerita tentang cara mudah untuk menikmati berbagai kejadian yang “mengesalkan” di jalanan. Kata tersebut sengaja saya beri tanda kutip sebab “kesal” memang sebuah pilihan. Mau kesal atau tidak, yang penting dapat hikmah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ya, saya sebut tips ini sebagai tips “Menclok”. Bagi Anda yang belum familiar dengan istilah ini, ‘menclok’ adalah kata lain dari melompat, alias nangkring dalam bahasa Jerman. Hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Teknik ini memungkinkan kita untuk belajar empati sekaligus menikmati kondisi jalanan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Kok bisa? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Yuuuk…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Anda pernah diserobot di jalanan yang membuat Anda benar-benar kaget dan kesal? Baguuus. Nah, sementara Anda memikirkan diri Anda yang sedang kesal, sekarang, apa yang Anda pikirkan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Aha, tepat sekali! Yak, benar, seperti itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, saya kurang tahu persis bagaimana Anda akan melakukannya sebentar lagi. Yang pasti, Anda dan pikiran Anda yang lebih tahu. Yaitu, sambil Anda memperhatikan gambar orang yang menyerobot Anda tersebut, Anda boleh KELUAR dari diri Anda, dan masuk ke dalam diri orang tersebut, SEKARANG!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Yak, baguuus. Anda sudah melakukannya dengan baik. Well, Anda baru saja menyerobot seseorang, bukan? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Anda boleh bertanya pada diri Anda, apa tujuan Anda melakukan hal tersebut? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Apa sebenarnya yang sedang terjadi sehingga Anda begitu terburu-buru? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Apa hal yang jika orang yang baru saja Anda serobot tahu, maka ia pasti mengerti?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Pikirkan sejenak, dan rasakan, sepenuhnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Bukankah ada sebuah sensasi ‘aneh’ dalam diri Anda? Sebuah sensasi yang mungkin belum pernah Anda rasakan sebelumnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, sementara Anda MEMBAWA sensasi ini, Anda boleh KELUAR dari diri Anda, dan MASUK kembali ke dalam diri orang yang Anda serobot, SEKARANG!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Aha! Selamat datang kembali!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Jadi, Anda tadi diserobot ya? Bagaimana perasaan Anda, sekarang? Bagaimana rasanya sensasi dalam diri Anda ketika memikirkan kejadian tadi itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, bukankah Anda menyadari adanya sesuatu yang berbeda? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Baguuuus! Anda sudah melakukannya dengan baik. Lalu, kemana perginya perasaan kesal itu tadi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ah, saya tidak percaya jika ia hilang begitu saja. Anda bisa saja memunculkannya kembali, namun saya yakin Anda tentu lebih memilih sebuah perasaan yang Anda bisa menikmatinya, kan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Well, saya sendiri dulu sempat berpikir, mengapa begitu banyak sepeda motor di Jakarta yang seenaknya berkendara? Seolah jalanan adalah milik mereka sendiri? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ya, dulu. Sampai akhirnya saya pun paham, karena saya memang wajib bayar pajak. Dan katanya pajak itu untuk membangun jalan. Maka artinya memang saya yang punya jalan. Hehehe… Tentunya bersama orang-orang lain juga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Hal yang sama pun baru saja saya alami kembali 2 hari yang lalu, ketika Si Ceri dirawat di bengkel, sehingga kami berangkat kantor bersama Si Bito—nama untuk sepeda motor Honda Beat kami. Betapa jalanan yang padat memang melelahkan, panas, dan harus full konsentrasi agar bisa selamat. Maka tidak mengherankan ketika banyak pengendara sepeda motor sebenarnya sedang kelelahan di jalan, dan ingin segera menikmati indahnya rumah. Belum lagi jika ternyata ada keluarganya yang sedang sakit, atau ia sedang sakit perut dan kebeleeeet sekali, atau ada sebuah urusan yang menyangkut masa depannya, dan jutaan kemungkinan lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Demikianlah, beberapa hikmah yang saya temukan dengan teknik “Menclok”. Dan tentu tidak saja untuk urusan di jalanan. Saya seringkali menggunakannya dalam sebuah <em>meeting</em>, ketika ia berjalan belum sesuai harapan saya. Alih-alih kesal yang berdampak pada buntunya ide, maka saya pun “Menclok” sebentar sambil mengikuti jalannya pembicaraan. Alhasil, orang lain yang mulanya juga kesal, gara-gara melihat saya senyum-senyum, akhirnya pun turut tersenyum pula. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, saya ingin tahu, apa saja ya yang Anda temukan setelah mempraktikkan tips ini?</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=118</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Berguru</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=110</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=110#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 06:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[basic nlp]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[berguru]]></category>

		<category><![CDATA[berguru nlp]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia nlp]]></category>

		<category><![CDATA[NLP Basic]]></category>

		<category><![CDATA[nlp dalam bahasa indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[seni berguru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
 

Pak, saya sudah ikut training yang Bapak rekomendasikan. Kok saya nggak dapet apa-apa ya? Biasa aja tuh.
Ted, aku sudah baca buku yang katamu bagus, tapi nothing special tuh. 
Mas, saya sudah baca juga buku yang Mas ceritakan tadi. Tapi kok saya nggak bisa mendapatkan pelajaran seperti layaknya Mas ya?
Menyelesaikan kelas 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<p><mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.5in;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Pak, saya sudah ikut <em>training</em> yang Bapak rekomendasikan. Kok saya nggak dapet apa-apa ya? Biasa aja tuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.5in;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ted, aku sudah baca buku yang katamu bagus, tapi <em>nothing special</em> tuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.5in;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Mas, saya sudah baca juga buku yang Mas ceritakan tadi. Tapi kok saya nggak bisa mendapatkan pelajaran seperti layaknya Mas ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Menyelesaikan kelas 2 hari saya bersama Pak Wiwoho di bulan Maret lalu rupanya menghadirkan sebuah pencerahan yang selama ini menggelitik pikiran saya. Ya, 3 pernyataan di atas hanyalah rangkuman dari sekian banyak fenomena sejenis yang seringkali saya dengar dari beberapa orang yang meminta rekomendasi saya akan berbagai pelatihan atau literatur, yang rupanya belum memuaskan dahaga mereka akan ilmu yang didambakan. Sudah sejak beberapa lama sebenarnya saya merasa tahu jawabannya. Hanya saja, saya baru benar-benar mendapatkan sebuah jalinan ide yang terstruktur tepat setelah mengikuti kelas Pak Wi kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-110"></span><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sisi lain, entah sudah berapa banyak tulisan mengenai seni dan teknik mengajar yang ditulis, namun masih sedikit yang mengeksplorasi seni belajar. Maka meskipun saya tetap tertarik untuk menulis sebuah buku tentang seni menjadi guru, saat ini saya sedang begitu bergairah untuk menulis tentang seni menjadi murid. Sebab memang saya juga belum pernah mendengar ada yang namanya guru mumpuni yang datang ke dunia dengan sendirinya, tanpa pernah berguru pada seorang guru yang mumpuni pula. Maka kesimpulan saya pun sederhana: jauh sebelum menjadi seorang guru yang baik, seseorang mestilah menjadi seorang murid yang baik dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Apa yang ingin saya dapat?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Setidaknya ada beberapa hal yang saya temukan dalam perjalanan saya menjadi murid, dari dulu hingga saat ini. Beberapa hal berikut ini adalah hal-hal yang saya rasakan amat membantu saya dalam proses mendownload ilmu dari sang guru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Saya biasa memiliki beberapa tujuan dalam belajar, baik dalam hal membaca buku ataupun berguru secara langsung. Dua mode yang sering saya gunakan adalah: belajar tentang materinya dan belajar untuk menjadi trainer bagi materi tersebut. Dua tujuan ini jelas dua hewan yang beda sama sekali, maka salah menggunakan mode bisa menjadikan proses belajar salah sambung berat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Jika saya ingin belajar materinya, maka saya akan memasang <em>state</em> sebagai murid yang benar-benar bodoh. Meskipun saya sudah pernah mempelajari materi tersebut sebelumnya—dan ini memang selalu saya lakukan—saya kan menyimpannya di rumah dan sama sekali tidak saya bawa ke ruang kelas. Di kelas, saya akan duduk di depan, memasang tubuh tegak, memegang buku catatan, dan membiarkan wajah saya melongo, serta sering-sering berkata, “Oooo…gitu tho?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Melakukan hal ini akan membuat pikiran dan perasaan saya layaknya spons yang siap menyerap setiap detil ilmu yang diajarkan. Karena saya benar-benar menyingkirkan filter-filter yang menganggu, seperti filter merasa tahu, filter membandingkan, dll. Filter-filter ini baru saya pasang lagi setelah saya benar-benar selesai belajar.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Maka saat menggunakan mode ini, saya benar-benar bisa asyik masyuk belajar, meskipun gurunya begitu menjemukan alias memang kurang atraktif dalam mengajar. Karena setiap hal adalah hal baru bagi saya, maka tidak ada hal yang membosankan, melainkan semuanya adalah pelajaran yang menggairahkan. Saya bahkan sangat jarang bertanya jika sedang dalam mode ini. Saya benar-benar pasrah ilmu yang diajarkan diinstal ke dalam pikiran saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Pada intinya, saya selalu mengawali proses belajar dengan benar-benar menjadikan diri saya seorang murid. Dalam khasanah ilmu agama, ada sebuah pakem yang mengatakan, “Seorang murid itu bagaikan mayat di hadapan gurunya.” Alias, pasrah betul, dan benar-benar memposisikan guru selayaknya seorang guru. Hormat pada pribadinya, hormat pada ilmunya. Lepaskan pikiran dari memikirkan kekurangannya, fokuskan hati untuk menerima kemumpuniannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sementara itu, cukup sering juga saya mengulang untuk belajar pada seorang guru, demi mengetahui bagaimana caranya sang guru mengajarkannya. Dalam hal ini, saya memang ingin memodel cara beliau mengajar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, kalau ini yang saya inginkan, maka state yang saya pasang ada 2. Pertama, <em>state</em> pengamat alias posisi 3 di Perceptual Position. Kedua, state pelaku alias posisi 1. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sebagai pengamat, maka saya akan duduk di belakang, dan seringkali melipat tangan saya, untuk menjadi pengamat yang benar-benar obyektif. Saya tidak peduli ada materi yang diajarkan, melainkan fokus pada bagaimana beliau mengajarkannya. Yang saya perhatikan adalah struktur dan sama sekali bukan kontennya. Bagaimana beliau berkata, menggerakkan tangan, memainkan intonasi, mengatur jalannya sesi, dsb. Dalam konteks belajar lewat buku, maka saya fokus pada struktur penyampaian ide, sembari membayangkan sang penulis mengajarkannya secara langsung pada saya. Maka asyik sekali saat saya menyelami buku-buku klasik awal NLP, yang memang menggunakan format transkrip hasil rekaman di kelas. Saya bisa dengan mudah membayangkan dan mendengarkan para trainer berbicara seperti layaknya peserta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sisi lain, saya juga seringkali masuk ke dalam diri sang guru dan memerankan dirinya mengajar. Saya rasakan berbicara sebagai guru, memberikan materi, menggerakkan tubuh, dll. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sementara dalam hal belajar lewat buku, saya pun berbicara sendiri saat membaca buku tersebut, dan berusaha mencari cara penyampaian yang pas dengan tulisan yang saya baca. Tentu ini saya lakukan di tempat tertutup. Kalau tidak, wah, bisa dikira orang gila. Hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Fokuskan dengan bertanya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ajukan pertanyaan, dan jawabannya akan kita dapat. Demikian kata sebuah ungkapan. Pertanyaan adalah stimulus pikiran. Mengajukan pertanyaan yang salah hanya akan mengantarkan pikiran untuk menempuh jalan yang salah pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ya, saya selalu punya pertanyaan yang ingin saya jawab setiap kali mempelajari sesuatu. Maka saya tidak pernah bosan untuk mengulang membaca sebuah buku, sebab saya selalu punya pertanyaan yang berbeda setiap kalinya. Alhasil, hasil yang saya dapat pun berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Bertanya, “Apa yang baru yang belum saya pelajari sebelumnya?” jelas amat berbeda hasilnya dengan bertanya, “Apa saja di buku ini yang sudah pernah saya pelajari?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Maka saat saya penasaran dengan cara seorang penulis menemukan ide tulisan, saya bertanya, “Bagaimana dia menemukan ide tulisan ini?”, sembari saya menggunakan posisi satu dan menjadi sang penulis itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sementara saat saya belajar di kelas, saya seringkali bertanya, “Apa yang saya lewatkan di kelas sebelumnya? Apa yang saya belum paham saat belajar lewat buku kemarin? Bagaimana sebenarnya sebuah materi dipraktikkan? Apa inti yang belum saya pahami sebelumnya dan bisa saya temukan saat ini?” dan seterusnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Temukan hakikatnya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Saya memahami tahapan belajar terdiri dari 3 fase. Pertama adalah <strong>knowledge</strong>, kedua adalah <strong>practice</strong>, ketiga adalah <strong>meaning</strong>. Fase knowledge adalah saat kita memulai langkah awal belajar sesuatu. Fase practice adalah saat kita mempraktikkan secara langsung sebuah ilmu, sampai jadi mahir. Dan fase meaning adalah saat kita sudah melewati ratusan bahkan ribuan jam terbang praktik, hingga mampu menemukan mana yang inti dan mana yang pernik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Maka saya pun seringkali mengulang kembali apa yang saya pelajari bertahun-tahun lalu, demi mendapatkan inti yang dulu belum mampu saya pahami. Bahkan kalau saya bisa menemukannya, saya akan menggali informasi dari sumber primernya. Semisal, dalam konteks belajar lewat buku, maka saya akan mencari referensi awal dari buku yang saya baca. Karena setiap penulis yang mengutip penulis lain pastilah menggunakan ‘peta’-nya masing-masing, maka saya seringkali menemukan banyak hal menakjubkn saat menyelami sumber-sumber primernya. Belum lagi saya bisa memodel langsung gaya penulisan dan penemuan ide dari penulis sumber primer tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Berdoa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Sengaja saya letakkan langkah ini di bagian akhir karena ia lah langkah yang akan menjadi katalisator langkah-langkah sebelumnya. Ya, sumber segala sumber ilmu adalah Tuhan. Saya termasuk orang yang sangat meyakini bahwa proses mendapatkan ilmu bukanlah semata melalui proses belajar. Bahkan, jauh lebih banyak saya mendapatkan ilmu yang entah dari mana sumbernya, tanpa usaha apapun, begitu saja ia hadir dalam pemahaman saya. Maka saya hampir tidak pernah melupakan untuk berdoa pada Tuhan agar dimudahkan dalam mengambil ilmu yang bermanfaat, dari guru yang mumpuni, secara utuh untuk saya download. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ilmu yang bermanfaat, sebab belum tentu semua ilmu cocok untuk saya terapkan dalam konteks kehidupan saya. Atau bisa jadi saya masih di tahapan belum sanggup untuk menerima ilmu tersebut. Atau lagi, bisa jadi guru saya memiliki kekurangan yang memang manusiawi beliau miliki. Maka saya berlindung pada Tuhan agar hanya keutamaannya saja yang saya dapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Guru yang mumpuni, sehingga ilmu yang saya terima memang merupakan ilmu yang matang, kombinasi kematangan konseptual dan kematangan pribadi. Bukan hanya teori, melainkan plus hasil praktik yang beliau dapatkan sepanjang hidupnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Secara utuh, sebab begitu banyak ilmu tidak bisa ditransfer hanya melalui ucapan ataupun tulisan. Ilmu model ini jelas sulit dipelajari oleh pikiran sadar (conscious), namun hanya bisa langsung diterima oleh unconscious. Ilmu yang berada di tataran level unconscious competence. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Tuliskan, ajarkan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Akhirnya, saya selalu teringat pesan dari Imam Ali ra, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ya, menuliskan ilmu merupakan cara untuk mensistematisasi pelajaran yang kita terima. Yang tadinya berantakan, dengan ditulis ia menjadi rapi plus mudah dievaluasi. Sebab menulis sejatinya adalah menyarikan apa yang kita pelajari. Di dalamnya terkandung proses delesi, distorsi, dan generalisasi yang signifikan sehingga yang muncul pada akhirnya adalah saripatinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Nah, setelah menulis inilah biasanya saya jadi jauh lebih mudah ketika ingin mengajarkan, sebab saya sudah memiliki sebuah ilmu yang merupakan hasil racikan saya sendiri, alih-alih membawakan materi orang lain yang belum tentu pas dengan gaya mengajar saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Kenapa sih, harus diajarkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Ya, karena hanya dengan mengajar maka ilmu kita akan bertambah. Dengan mengajar, saya jadi tahu persis mana bagian yang sudah benar-benar saya kuasai, dan mana yang perlu saya pelajari lebih lanjut. Sementara itu, mengajar justru membuat saya merasa bodoh, terutama saat mendapat pertanyaan yang belum bisa saya jawab, atau menghadapi kondisi kelas yang belum bisa saya kendalikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">OK, sampai disini dulu. Semoga setelah mengambil yang menurut Anda paling mudah untuk diterapkan lebih dulu, Anda pun mendapati hasil yang sama mengejutkannya dengan saya. Bahkan lebih!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=110</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Agenda Spiritual NLP</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=98</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=98#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 03:55:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[agenda spiritual nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp and spirituality]]></category>

		<category><![CDATA[Spiritual NLP]]></category>

		<category><![CDATA[spiritualitas]]></category>

		<category><![CDATA[spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
 

Saya memulai pengembangan Spiritual NLP dengan alasan yang amat sederhana. Sebuah alasan yang berangkat dari keawaman saya mengenai ranah spiritual dan agama. Ya, saya bukanlah seorang ustadz, apalagi ahli agama. Saya adalah praktisi psikologi. Sementara itu, jauh di atas profesi saya, saya adalah seorang Muslim, yang menikmati keislaman saya. 
Nah, dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Saya memulai pengembangan Spiritual NLP dengan alasan yang amat sederhana. Sebuah alasan yang berangkat dari keawaman saya mengenai ranah spiritual dan agama. Ya, saya bukanlah seorang ustadz, apalagi ahli agama. Saya adalah praktisi psikologi. Sementara itu, jauh di atas profesi saya, saya adalah seorang Muslim, yang menikmati keislaman saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Nah, dalam kondisi sedang menyelami perjuangan untuk mendekat pada Sang Pencipta, saya menemukan bahwa umur manusia begitu singkat jikalau digunakan untuk hal-hal yang tidak mendekatkan saya pada tujuan akhir: bertemu Allah sebagai ahli surga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-98"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Sementara itu, saya pun merasakan bahwa NLP adalah sebuah ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan saya dan banyak orang. Maka saya pun meluangkan cukup banyak waktu untuk mendalaminya. Repotnya, belajar NLP secara terpisah rupa-rupanya membawa saya pada sebuah kondisi yang menggelisahkan. Ini sudah saya ceritakan dalam artikel sebelumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Wah, aneh ya? Ilmu ini seharusnya bermanfaat, kok malah menggelisahkan? Padahal, saya tidak ingin waktu saya sia-sia untuk melakukan hal yang justru malah menjauhkan saya dari jalan-Nya. Walah, ya gimana ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Maka berbagai hikmah pun hadir dalam pikiran dan perasaan saya, memunculkan sebuah ide yang sangat sederhana. Saya bukan ustadz, karenanya saya tidak berani bicara masalah agama. Tapi saya seorang Praktisi NLP, dan saya tahu banyak tentang ilmu ini. Nah, saya kembangkan saja NLP yang tetap bermanfaat, namun terbebas dari hal-hal yang menggelisahkan. Lebih tepatnya, mengisi, mendaur ulang, mensistematisasi, dan mengintegrasikan NLP sehingga ia justru mendekatkan saya pada Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Tanpa saya sadari, usaha ini mulai membuahkan hasil. Anda yang pernah membaca beberapa artikel saya jauh sebelum ini tentu sudah menyadari arah pemikiran saya. Mulai dari analisa saya soal doa sampai fitnah. Saya baru sadar, bahwa NLP itu ya ilmu Allah juga. La bagaimana tidak? Bukankah semua hal di dunia ini terjadi atas izin Allah? Cuman kebetulan saja yang menyusun NLP itu adalah orang bule, makanya diberi nama NLP. Kalau orang Arab, barangkali akan lain ceritanya. Cuman karena para pengembang awal NLP memang bukan orang yang menyelami dunia spiritual, maka NLP disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ilmu yang <em>pure</em> bicara bungkus tanpa isi, struktur tanpa konten. Mereka adalah pakar struktur, sementara kontennya diserahkan pada masing-masing pengguna. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Nah, di sini lah mulai menyadari keterbatasan NLP model begini. Apalagi setelah mengalami beberapa kejadian, ketika NLP digunakan dengan konten yang jauh bertentangan dari tujuan penghambaan saya sebagai seorang Muslim. Mulai dari alat untuk merayu (bukan pada suami/istri) sampai alat untuk berbisnis secara tidak etis. Soal rayu-merayu jelas sebuah hal yang amat baik, dalam konteks kehidupan rumah tangga. Tapi ketika digunakan sebelum 2 orang resmi menikah, maka ia jelas menjerumuskan. Begitu juga dengan Milton Model untuk mempersuasi. Ia adalah sesuatu yang amat baik jika memang kita menjual produk yang berkualitas tinggi, kepada calon pelanggan yang memang membutuhkannya. Namun saat produk kita jelek, plus sebenarnya sang calon pelanggan tidak membutuhkannya, maka ia menjadi sesuatu yang tidak etis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Maka sementara NLP memang berbicara soal struktur, ia baru bermanfaat ketika diisi dengan konten yang bermanfaat. Konten yang mendekatkan penggunanya pada jalan yang telah digariskan oleh Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Nah, saya punya cerita menarik nih. Saat saya mengikuti kelas Licensed Master Practitioner bersama Pak Ronny, kelas dimulai di hari Sabtu, sehingga berakhir di hari Jum’at. Berarti hari Jum’at itulah saya pertama kali mengikuti shalat Jum’at sejak dilatih menjadi Master Praktisi NLP. Tentu saja saat itu saya shalat di mesjid dekat lokasi pelatihan. Agak jauh di dalam komplek perumahan lokasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Dan, khutbah pun dimulai. 1 menit. 2 menit. 5 menit. 10 menit. Semakin lama, telinga saya semakin ‘sakit’. Apa pasal? Telinga saya, yang sudah dilatih untuk memiliki kepekaan linguistik yang tinggi selama pelatihan, rupanya <em>jet lag</em> saat mendengar cara sang ustadz menyampaikan khutbahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Wah, apakah khutbahnya salah? Ngawur? Ekstrim? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Hehehe&#8230;tentu tidak. Bukan kontennya yang salah, melainkan pada struktur penyampaiannya. Sementara saya memahami bahwa sang ustadz ingin menyampaikan sesuatu yang baik, namun invotasi dan penekanannya justru melemahkan konten baik tersebut. Padahal saat menyampaikan sesuatu yang buruk, ia justru ditonjolkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Pada hari itu saya merenung, bahwa ilmu NLP ini haruslah digunakan untuk menyampaikan kebenaran Ilahiah. Di titik inilah saya membulatkan niat untuk mengembangkan Spiritual NLP.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">OK. Jadi, apa yang akan kita lakukan dalam Spiritual NLP?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Ada beberapa hal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Pertama</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">, meninjau kembali berbagai asumsi dalam NLP sehingga <em>align</em> dengan konsep keyakinan. Anda yang sudah mempelajari NLP secara komprehensif tentu sudah memahami bahwa seluruh praktik dalam NLP dibangun berdasarkan seperangkat asumsi yang disebut dengan NLP Presuppositions. Tanpa memahami dan menginternalisasi presuposisi ini, NLP tidak lebih dari sekedar urut-urutan teknik yang kaku belaka. Sebab justru keunikan NLP sebagai sebuah model kerja yang fleksibel baru bisa muncul ketika keseluruhan presuposisi tersebut diterapkan <em>unconsciously</em>. Nah, bicara soal asumsi, saya mendapati seperangkap presuposisi NLP masih memiliki beberapa titik yang perlu di-<em>enhance</em> sehingga menjadikan para praktisinya seimbang dalam aspek fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Sebagai contoh, presuposisi dasar ’the map is not the territory’ sebenarnya merupakan sebuah asumsi yang ekselen untuk menjelaskan cara kerja pikiran dan perasaan manusia. Pertanyaannya, apakah lantas semua <em>map</em> menjadi relatif? Benarkah tidak ada <em>map </em>yang pasti? Tentu tidak, bukan? Sebab kita tentu sepakat bahwa ada kebenaran mutlak yang bernama Tuhan. Di luar itu semuanya relatif. Pun ketika manusia menjalankan aturan yang telah diberikan Tuhan berupa ajaran agama, cara memahaminya tetap relatif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Terus, kenapa juga mesti di-<em>enhance</em>? Kan memang selama kita masih manusia maka kita tidak bisa lepas dari cara paham relatif ini? Kita akan selalu terkungkung dalam <em>map</em> yang kita susun, bukan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Betul. Namun meyakini hal ini secara ekstrim seringkali membuat manusia limbung dan kehilangan arah. Sebab manusia itu memang fitrahnya membutuhkan tempat berpegangan. Nah, sementara manusia seringkali berpegang pada <em>map</em>-nya yang relatif, maka Islam mengajarkan sebuah kalimat nan ampuh untuk mengatasi kebingungan, La Ila ha Illallah. Tidak ada <em>ilah</em> selain Allah. Kenyataannya, <em>ilah</em> itu ada banyak, cuman yang sejati hanya 1, Allah. Dengan demikian, presuposisi <em>‘the map is not the territory</em>’ perlu didefinisikan ulang agar menjadikan kita sebagai praktisi hidup dengan tenang karena punya tempat berlindung yang tidak pernah relatif, tempat berlindung sejati: Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Kedua</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">, melakukan <em>modeling</em> terhadap praktik ibadah ritual. Ibadah ritual (shalat, dzikir, dll) merupakan jenis aktivitas yang sudah ekselen, sebab ia bukan buatan manusia. Nah, secara <em>passion</em> dari NLP itu adalah memburu <em>excellency</em>, maka ibadah jelas merupakan sesuatu yang harus jadi prioritas untuk dimodel. Dengan memodel, kita dapat menjadikan struktur ibadah menjadi lebih eksplisit dan mudah untuk dipelajari serta dipraktikkan. Insya Allah saya akan menulis artikel secara khusus mengenai proses <em>modeling</em> terhadap shalat dan dzikir yang sedang saya lakukan dan masih terus dikembangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Ketiga</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">, memodel terhadap ranah ajaran akhlak (sikap dan perilaku). Bagaimana sih sebenarnya sabar itu? Bagaimana kita bisa mengaksesnya saat dibutuhkan? Terus, bagaimana pula dengan ikhlas? Syukur? Tawadhu (rendah hati)? Insya Allah, sikap dan perilaku mulia bukan lagi sesuatu yang jauh dari jangkauan kita orang awam ini, jika kita sudah bisa menemukan struktur untuk mengaksesnya saat diperlukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Keempat</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">, melakukan modeling terhadap orang-orang yang telah mencapai kematangan spiritual. Sebuah hal yang lucu memang, sementara dunia seringkali begitu kagum dengan sosok-sosok tokoh masa kini yang menemukan teori ini dan itu, sementara mereka memiliki banyak kekurangan yang seringkali fatal. Eh, kok ya dunia seolah lupa bahwa di dunia ini pernah hidup sosok-sosok pilihan Tuhan yang telah dirancang sebagai <em>excellent role model</em> bagi para pengikutnya. Pamungkasnya, ya tentu Nabi Muhammad SAW, selain para nabi lain tentunya. Rada aneh, saat saya begitu kagum dengan model Visionary Leadership Skill hasil <em>modeling</em> Pak Dhe Robert Dilts dari kepemimpinan di FIAT, kok ya saya waktu itu nggak kepikir untuk memodel sebuah kepemimpinan visioner yang telah jelas terbukti mempengaruhi entah berapa jumlah manusia sejak 1400 tahun yang lalu dan masih terus sampai sekarang. Maka kalau memang benar para praktisi NLP adalah orang-orang yang terobsesi pada <em>excellency</em>, tentu sosok manusia agung ini lah orang yang harus secara besar-besaran kita model. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Nah, kalau memang masih berat, ya kita mulai dari para pengikutnya yang minimal telah mendekati lah, yakni orang-orang shaleh yang telah begitu sukses mencapai aktualisasi diri jauh sebelum Abraham Maslow mempublikasikan teorinya. Sebab orang-orang shaleh ini jelas tidak hanya sukses secara spiritual, melainkan begitu banyak di antara mereka yang juga sukses secara material. Uniknya, kesuksesan material datang dengan begitu mudah, sebab mereka tidak pernah terikat dengannya. Saya teringat kisah tentang Al-Junaid yang merupakan seorang saudagar kaya raya, namun menghabiskan waktunya jauh lebih banyak untuk shalat daripada mengurusi tokonya. Begitu juga dengan sahabat Abdurrahman bin Auf yang sebagian besar penduduk Madinah di masa itu hidup dari bantuannya, dengan mudah menyedekahkan hasil perdagangannya yang luar biasa buanyak itu, demi mendengar kabar bahwa dirinya akan masuk surga dengan lambat gara-gara kebanyakan membawa harta. Wah, bisa jadi model ‘ultimate wealth mastery’ yang yahud nih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Begitu juga saya teringat dengan kisah-kisah para tabi’in (generasi sesudah para sahabat Nabi) tentang cara mereka menjalankan shalat dengan khusyuk. Ada yang mulai dari saat wudhu sudah membayangkan akan bertemu Maha Raja. La kalau ketemu raja biasa saja kita pasti sudah tertunduk takut dan takzim, apalagi mau menghadap Sang Maha Raja langit dan bumi? Ada juga yang ketika shalat membayangkan dirinya berada di jembatan shirath yang tipisnya seperti rambut dibelah tujuh dan bisa sewaktu-waktu jatuh ke neraka. Wah, ini kan NLP banget. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">OK lah kalau beliau-beliau itu masih terlalu jauh dari benak kita. Bagaimana dengan orang-orang yang ada di Indonesia deh? Di negara kita sendiri nih. Wah, buanyak sekali kalau mau didaftar satu per satu. Nah, inilah yang saya maksud di poin ketiga ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Kelima</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">, menyusun sebuah kerangka kerja menggunakan Spiritual NLP integratif. Salah satu kelemahan dari model pembelajaran NLP yang ada saat ini, terutama yang durasinya singkat, adalah tidak sempatnya dibahas tentang, “Bagaimana sih sebenarnya menggunakan semua perangkat ini secara sistematis?” Maka saya pun tidak heran kalau para <em>newbie</em> yang baru lulus kelas sertifikasi praktisi cukup sering mengkontak saya baik via email, chat, ataupun sit in dalam kelas saya demi mendapatkan jam terbang dan jam penghayatan yang lebih banyak sebelum mereka benar-benar PD untuk membantu orang lain. Nah, di poin ini, Spiritual NLP akan mengembangkan sebuah model kerja yang mengintegrasikan model perubahan ala NLP dengan model terapi spiritual sehingga menghasilkan perubahan yang mendasar dan permanen. Sebab sebenarnya jika kita telusuri kembali kisah para ulama yang memberikan ‘terapi’ pada orang yang datang memohon bantuan, beliau-beliau seringkali menyarankan untuk mengerjakan amalan tertentu (seperti bersedekah, mengerjakan shalat sunah, membantu fakir miskin, dll), atau memperbaiki kualitas amalan yang selama ini sudah dilakukan (memperbaiki kualitas shalat, zakat, puasa, dll). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Demikianlah, 4 agenda yang saat ini akan kami fokuskan untuk mengembangkan Spiritual NLP. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Kok hanya empat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Ya karena yang 4 ini saja sudah akan memakan banyak sumber daya, plus kesungguhan yang tinggi. Sisi lain, ranah di luar yang 4 ini sebenarnya sudah bukan lagi bicara NLP, melainkan sudah lebih dalam ke ranah spiritualitas itu sendiri, yang saya akui masih jauh dari diri kami yang awam ini. Maka kami memang hanya akan memfokuskan diri pada apa yang kami tahu. Oleh sebab itu, Spiritual NLP bukanlah aliran baru yang akan menyaingi ajaran-ajaran spiritual lain. Wah, sama sekali bukan! Spiritual NLP hanya akan membahas ‘how to’ dari spiritualitas keseharian yang diperlukan oleh banyak orang awam seperti saya. Bagaimana sih hidup bahagia? Bagaimaan sih hidup penuh syukur? Bagaimana sih menjalani hari dengan ikhlas? Bagaimana sih memaafkan dengan mudah? Bagaimana sih meningkatkan semangat untuk beribadah dan beramal? Bagaimana sih memaksimalkan potensi yang telah diberikan Tuhan untuk saya? Dan seterusnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Nah, saat ia sudah tidak lagi memadai, sebab Anda sudah mencapai kematangan spiritual yang lebih tinggi, tentu Anda sudah tahu harus belajar apa dan pada siapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">OK. Insya Allah kami akan meneruskan artikel ini dengan bahasan yang lebih spesifik. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=98</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Spiritual NLP</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=90</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=90#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 02:38:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[nlp and spirituality]]></category>

		<category><![CDATA[nlp development]]></category>

		<category><![CDATA[pengembangan nlp]]></category>

		<category><![CDATA[Spiritual NLP]]></category>

		<category><![CDATA[spiritualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
Wah, apa nih? 
Ya, Spiritual NLP.
Maksudku, apa lagi nih? Memangnya NLP kurang, kok musti dispiritualkan?
Begitulah.
Wah, bukannya NLP itu sudah komplit? Kurang apa lagi?
Beneran pengen tahu?
Ya iyalah. Jangan bikin penasaran donk.
Boleh. Tapi biar nyambung, baca dulu artikel saya yang berjudul “NLP Dalam Hidup Saya”. Karena artikel itulah yang telah membuat saya memutuskan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN">Wah, apa nih? </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ya, Spiritual NLP.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN">Maksudku, apa lagi nih? Memangnya NLP kurang, kok musti dispiritualkan?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Begitulah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN">Wah, bukannya NLP itu sudah komplit? Kurang apa lagi?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Beneran pengen tahu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-90"></span><em><span lang="IN">Ya iyalah. Jangan bikin penasaran donk.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Boleh. Tapi biar nyambung, baca dulu artikel saya yang berjudul “NLP Dalam Hidup Saya”. Karena artikel itulah yang telah membuat saya memutuskan untuk memulai pengembangan Spiritual NLP sekarang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN">OK, nanti tak baca</span></em><span lang="IN">. <em>Sekarang prolog dulu donk.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Boleh…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">NLP dan Spiritualitas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pembelajaran NLP yang saya tempuh sejauh ini menghantarkan saya justru kembali pada materi yang pertama kali saya pelajari dulu: NLP adalah sebuah metodologi untuk memodel struktur pengalaman subyektif. Dari sini, para pengembang NLP pun berkelana mencari orang-orang yang disebut-sebut sebagai <em>excellent performers</em> dan berusaha menyusun sebuah model dari apa yang berhasil dengan begitu brilian mereka lakukan. Salah satu simpul dari pengelanaan ini adalah munculnya berbagai teknik dan model siap pakai, sehingga melahirkan NLP generasi kedua—menurut salah seorang guru saya, Peter Wrycza—yang menonjolkan berbagai teknik instan untuk menciptakan perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Namun generasi ini bukanlah generasi akhir. Bahkan, baru merupakan awal dari perjalanan panjang NLP yang masih terus berkembang hingga saat ini. Maka saya pun mahfum kalau pada titik tertentu, para pencari ‘kesempurnaan hidup’ ini pun kemudian melirik orang-orang yang matang secara spiritual sebagai model.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kok maklum?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ya, maklum lah. Sebab memang tidak bisa dipungkiri, hanya mereka yang telah mengalami kematangan spiritual lah yang mampu menghadirkan kebahagiaan hakiki secara konsisten. Sementara yang lain, umumnya berhenti di titik tertentu, untuk kemudian mengalami berbagai kegelisahan akibat hidup terputus dengan Yang Maha Menciptakan Kehidupan ini. Tidak terkecuali yang terjadi pada para pengembang NLP sendiri, yang disoroti akibat ‘kenyelenehan’ kehidupan pribadinya. Anda yang pengamat sejarah NLP tentu tahu siapa yang saya maksud.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Adalah Robert Dilts yang pertama kali muncul dengan Neurological Level Model, hasil pengembangan dari konsep dan ajaran Gregory Bateson. Dalam level-level yang ia ajukan, spiritualitas atau <em>connectedness</em> menjadi tangga tertinggi dalam level neurologis manusia. Maka spiritualitas, menurut Dilts, tidak saja penting, namun teramat penting sebab ia lah yang menaungi berbagai level lain mulai dari identitas diri hingga lingkungan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">NLL-pun kemudian dianggap sebagai <em>unified field theory of NLP</em>, alias sebuah teori untuk memahami dan menggunakan NLP sebagai sebuah kesatuan yang utuh. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Loh, memangnya NLP nggak utuh?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Begitulah. Pengembangan NLP yang sangat bernuansa pragmatis rupa-rupanya memang menjadikan hasil kumpulannya belum lah terintegrasi. Dan NLL adalah sebuah usaha untuk mengintegrasikan hal tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Nah, saya pun menelusuri berbagai literatur NLP sembari mencocokkan satu demi satu antara materi NLP dan NLL. Hasil penemuan saya adalah: begitu banyak materi NLP menyasar perubahan pada aspek <em>belief</em>, <em>capability</em>, dan <em>behavior</em>, namun masih teramat jarang—kalau tidak mau dibilang hampir tidak ada—yang membahas mengenai <em>identity</em> dan <em>spirituality</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Apa pasal?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya belum tahu. Bisa jadi karena memang fokus NLP pada memodel perilaku yang tampak, atau sebab-sebab lain Yang pasti ini merupakan sebuah pencerahan bagi saya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Loh, kok malah pencerahan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ya pencerahan donk. Karena artinya saya mendapatkan jawaban mengapa NLP seringkali belum mampu membantu menciptakan sebuah perubahan yang fundamental dalam diri seseorang. Saya pun jadi paham, di titik mana kah NLP bisa dikembangkan lebih lanjut untuk dapat memfasilitasi perubahan yang bersifat transformasional dan generatif.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Idenya adalah…</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Jadi, idenya begini. Spiritual NLP adalah sebuah usaha untuk mengintegrasikan NLP sehingga para praktisinya dapat mengalami sebuah proses perubahan yang terintegrasi dengan fitrahnya sebagai manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Fitrah sebagai manusia? Wah, kok kayaknya daleeeeem beneeeer.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Begitulah memang seharusnya. Sebagai seorang Muslim, saya meyakini bahwa tugas seorang manusia adalah menjadi khalifah. Khalifah memiliki makna sebagai wakil. Maka manusia sebagai khalifah berarti manusia sebagai wakil Tuhan untuk memakmurkan dunia. Nah, seorang wakil, pastilah diberi bekal untuk menjalankan tugasnya. Pada saat yang sama, seorang wakil haruslah menjalankan pekerjaan sesuai dengan target dan aturan yang ditetapkan oleh yang diwakili. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Nah, bekal itu adalah potensi diri. Sementara seperangkat target dan aturan itu adalah ajaran agama. NLP telah banyak dan terus bicara soal potensi <em>mind </em>manusia. Sementara itu, ajaran agama pun telah begitu gamblang mengajarkan manusia bagaimana cara mencapai kebahagiaan hidup yang hakiki, dengan tujuan akhir yang mutlak: bertemu Allah di surga. Pertanyaannya kemudian adalah: bisa kah keduanya diintegrasikan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Jawaban saya: Insya Allah bisa. Dengan beberapa catatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya katakan bisa, sebab justru inilah peluang pengembangan NLP yang saya maksudkan tadi. NLP ibarat sebuah pisau, yang tak pernah tahu ia akan digunakan untuk apa. Agar bisa bermanfaat, maka ia harus digunakan dengan seperangkat aturan yang jelas manfaatnya, semisal untuk memasak. Kalaupun digunakan untuk membunuh, maka membunuh yang sesuai </span><span>bermanfaat</span><span lang="IN">, seperti membunuh hewan untuk dimakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Nah, aturan apa yang pasti jelas manfaatnya bagi manusia? Ya aturan yang diciptakan oleh Yang Menciptakan manusia lah. Sebab aturan ini sifatnya mutlak dan pasti benar, tidak seperti aturan ciptaan manusia yang sifatnya senantiasa relatif. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Demikianlah, saya meniatkan diri saya untuk mengembangkan Spiritual NLP. NLP yang diaplikasikan</span><span> sesuai dengan fitrah manusia sebagai khalifah. NLP yang merupakan <em>enabler</em> dan katalisator dari segenap perintah yang telah begitu sempurna ditentukan oleh-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Perintah yang begitu sempurna?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Betul sekali. Oleh sebab Tuhan Maha Sempurna, maka aturan yang ia perintahkan jelas juga amat sempurna. Ini logika yang teramat sederhana. Maka kita sejatinya tidak perlu mengotak-atik apapun yang telah diperintahkan oleh-Nya. Kita hanya perlu menjalankannya secara konsisten. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Lalu, apa donk guna NLP kalau perintah-Nya sudah sempurna?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ada beberapa hal. <strong>Pertama</strong>, sebagai alat untuk memahami apa yang Ia perintahkan. Karena akal manusia yang terbatas, ia seringkali membutuhkan berbagai cara untuk memahami ilmu Tuhan yang teramat tinggi. Bukankah manusia baru bisa memahami ayat yang mengatakan bahwa semakin tinggi tempat maka pernapasan terasa tercekik setelah muncul ilmu pengetahuan tentang lapisan udara? Maka saya pun baru bisa benar-benar memahami hadits, “Aku tergantung prasangka hamba-Ku,” setelah beberapa tahun mempraktikkan prinsip dasar NLP, “The map is NOT the territory.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Kedua</span></strong><span>, sebagai alat untuk mempermudah dalam menjalankan perintah-Nya. Apa hubungan antara olah raga dengan shalat malam? Sekilas, hampir tidak ada, bukan? Namun jika disebabkan oleh kita rajin berolah raga, lalu fisik menjadi prima, tidak mudah lelah, sehingga dapat bangun shalat malam dengan lebih mudah, bukankah keduanya jadi berhubungan, meskipun dalam praktikknya kedua aktivitas tersebut tidak dijalankan secara bersamaan. Begitu pula hubungan NLP dengan ibadah. Ibadah itu sudah sempurna, maka ia tidak perlu NLP. Namun jika dengan mempraktikkan NLP seseorang dapat memasang <em>anchor</em> semangat untuk beribadah, atau melakukan <em>reframe</em> terhadap makna ibadah, bukankah ibadah menjadi sesuatu yang menyenangkan? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya teringat pengalaman saya ketika mengikuti Pelatihan Shalat Khusyuk yang diadakan oleh Ust. Abu Sangkan. Di awal pelatihan, beliau meminta kami untuk berlatih melakukan gerakan shalat dengan amat perlaaaaahaaaaan…dengan tujuan untuk merasakan efek dari setiap gerakan. Sebab khusyuk amat ditentukan oleh tuma’ninah, alias kesempurnaan tiap gerakan, di samping penghayatan terhadap bacaan. Nah, naluri NLPers saya pun bekerja ketika itu. Saya jadi teringat presuposisi NLP tentang, “Mind and body are one system and affect each other.” Maka jadi masuk akal jika gerakan tubuh yang tepat akan mendukung kekhusyukan shalat, sebab setiap gerakan shalat pastilah telah dirancang untuk menghadirkan khusyuk ini. Ditambah lagi dengan penghayatan bacaan shalat, yang menggunakan prinsip neuro-linguistik, rupanya saya temukan memiliki efek neurologis yang khas dalam tubuh, pikiran, dan perasaan saya. Alhamdulillah, telah hampir 1 tahun saya menjalankan shalat yang seperti ini, dan hasilnya begitu nikmat. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Adalah berjumpa dengan Allah sebagai ahli surga merupakan <em>ultimate goal</em> setiap manusia. Maka alih-alih hanya menggunakan NLP untuk mencapai tujuan hidup di dunia, mengapa tidak gunakan untuk mencapai <em>ultimate goal</em> ini? Saat semangat beribadah menurun, gunakan NLP untuk membantu meningkatkannya. Saat tangan ini masih berat bersedekah, gunakan NLP untuk membantu meringankannya. Saat diri ini masih dekat dengan maksiat, gunakan NLP untuk menciptakan trauma dan fobia bermaksiat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Demikianlah, ide sederhana saya tentang Spiritual NLP. Sederhana, sebab saya bukanlah seorang ulama. Saya hanyalah seorang Muslim yang dengan kapasitas saya sebagai praktisi NLP ingin menjadikan ilmu ini bermanfaat saat Hari Pengadilan kelak. Sebab tidak ada hal lain yang layak dilakukan oleh seorang Muslim selain menjalankan setiap detik sebagai persiapan untuk berjumpa dengan-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Insya Allah, saya akan membahas aplikasi riilnya dalam bentuk artikel-artikel pendek. Jika ia telah lengkap sebagai sebuah model, mudah-mudahan Allah mengizinkan untuk menjadikannya sebuah buku tersendiri. Saya berlindung kepada-Nya dari kesalahan yang mungkin terjadi. Mudah-mudahan ini menjadi amal kebaikan bagi saya dan Anda yang turut menyumbang ide dan pemikiran. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Amin.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=90</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP Dalam Hidup Saya</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=92</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=92#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 02:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[nlp and spirituality]]></category>

		<category><![CDATA[Spiritual NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
Sudah hampir 5 tahun sejak pertama kali saya mengenal NLP. Sebuah masa yang pendek jika dilihat dari angkanya, sekaligus panjang saat dirunut tiap detik yang ada di dalamnya. Betapa tidak? Begitu banyak hal—hal-hal yang belum pernah terpikir oleh saya sebelumnya—terjadi ketika saya belajar dan mempraktikkan NLP secara serius.
Wah, kok kayaknya canggih betul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p>Sudah hampir 5 tahun sejak pertama kali saya mengenal NLP. Sebuah masa yang pendek jika dilihat dari angkanya, sekaligus panjang saat dirunut tiap detik yang ada di dalamnya. Betapa tidak? Begitu banyak hal—hal-hal yang belum pernah terpikir oleh saya sebelumnya—terjadi ketika saya belajar dan mempraktikkan NLP secara serius.</p>
<p>Wah, kok kayaknya canggih betul ya? Apa iya begitu?</p>
<p><span id="more-92"></span>Ah, setelah membaca artikel ini sampai habis, simpulkan saja sendiri deh.</p>
<p>Setidaknya sampai saat ini, saya sudah mengalami beberapa fase dalam proses belajar NLP dan saudaranya, hipnosis. Pertama adalah fase skeptis, kedua fase terkejut, ketiga fase fanatik, keempat fase frustasi, dan kelima fase biasa-biasa saja.</p>
<p>Loh, kok yang terakhir, berarti yang sekarang, malah biasa-biasa saja sih?</p>
<p>Hmm…sebentar lagi Anda akan tahu, kok.</p>
<p>Fase pertama, skeptis. Fase ini adalah fase saat saya pertama kali menemukan buku “NLP: New Technology for Achievement” karya para guru di NLP Comprehensive sana. Sementara waktu itu saya menemukan bahwa ilmu ini unik sebab memiliki cara pandang yang radikal terhadap terapi, pola pikir didikan dunia akademis yang kuat dengan tradisi penelitian empirik rupanya tanpa sadar membuat saya mengerutkan dahi. “Masuk akal sih, tapi…”, begitu lah kira-kira respon awal saya saat membaca bahwa kunci solusi terhadap permasalahan psikologis bukanlah terletak pada konten sebuah masalah, melainkan pada strukturnya. Dengan kata lain, sebuah masalah menjadi masalah bukan karena masalah itu sendiri, melainkan karena strukturnya ketika disimpan dalam pikiran dan perasaan kita.</p>
<p>Wuih, gimana nggak skeptis. La wong selama 3 tahun kuliah saya diajarkan (atau mempelajari?) untuk menyelami sebuah masalah. Masak dengan begitu mudah dikatakan bahwa kuncinya bukan menyelam, melainkan justru dengan menjadi pengamat di atas perahu?</p>
<p>Maka NLP pun menjadi sebuah kosa kata yang menggelitik untuk saya cari tahu duduk perkaranya. Penelusuran demi penelusuran saya lakukan, sampai akhirnya saya pun mendapati bahwa kunci dari memahami NLP bukanlah terletak pada pencarian intelektual semata, melainkan pada praktik secara aktif guna merasakan sendiri manfaatnya.</p>
<p>Nah, di titik inilah saya memasuki fase kedua, terkejut. Terkejut, sebab rasa skeptis saya seketika runtuh, begitu saya berhasil mengedit sebuah memori rasa kesal menjadi rasa geli hanya dengan menggunakan <em>submodality</em> <em>re-map</em> (meminjam istilah Pak Kiai Ronny). “Weleh, ternyata bisa loh!” ujar saya waktu itu. Maka eksperimen demi eksperimen terhadap diri sendiri (dan beberapa rekan yang sama-sama bersedia menjadi ‘korban’) pun dilakukan sampai saya menemukan 2 pembelajaran baru. Pertama, NLP itu benar-benar works lho (nggak penting banget ya?). Kedua, saya jadi tahu bahwa yang namanya kebenaran itu luas. Bahwa yang namanya ilmiah itu adalah sebuah <em>comparative deletion</em> yang begitu dicermati dengan menampilkan pembanding yang berbeda, maka berbeda pula maknanya. Ilmiah bukanlah soal meneliti dengan metode penelitian dan melakukan analisa kuantitatif semata. Ilmiah adalah usaha untuk menemukan what really works. “Sebab sesuatu yang tidak operasional, juga ndak bisa dibilang ilmiah,” ujar salah seorang guru saya.</p>
<p>Maka fase terkejut pun berlanjut kepada fase fanatik, ketika hari demi hari saya merasakan sendiri hidup dan kehidupan saya berubah. Saya mulai berani bermimpi sekaligus berani mencurahkan energi untuk sesuatu yang bernama mimpi itu. Rasa takut seolah lenyap, berganti dengan harapan dan optimisme. “<em>Anything is possible! Go for it!</em>” adalah kata-kata favorit saya. Anda tidak akan pernah tahu apa yang bisa Anda lakukan, kecuali Anda sudah mencobanya sendiri. Tidak ada batasan dalam hidup, selain batasan yang Anda buat sendiri.</p>
<p>Demikianlah beberapa potongan hikmah yang saya temukan di fase fanatik ini. NLP seolah menjadi pil ajaib bagi saya. Semua yang bisa saya pikirkan berarti bisa saya raih. Hajar bleh! Yes, yes, yes!</p>
<p>Sampai…beberapa ‘kegagalan’ muncul. Beberapa, tidak banyak. Bahkan, sebenarnya jauh lebih sedikit dibandingkan keberhasilan yang saya peroleh. Hanya saja, ‘kegagalan’ itu adalah hal yang benar-benar saya inginkan. Yang intensitas emosinya saya set begitu tinggi. Yang curahan energinya begitu besar. Maka ketika ia ‘tidak’ tercapai, syuuuuuut…terjun bebas. He..he..he..</p>
<p>Inilah yang saya sebut dengan fase frustasi. Potongan-potongan kalimat-kalimat favorit tadi pun bermunculan dalam benak saya, terdengung di telinga saya, dan terasa berbeda dalam dada saya. Kalimat-kalimat tersebut tetap bagus, hanya ia belum lengkap. Ia seolah diambil sebagai sebuah potongan, sementara potongan lainnya hilang atau masih tertutup.</p>
<p>Sempat saya merasa frustasi, namun tidak lama. Sebab setelah itu rasa syukur lah yang muncul.</p>
<p>Kok?</p>
<p>Ya, karena sementara saya menyadari bahwa ada begitu banyak hal dalam diri saya yang mengalami perubahan sejak mempraktikkan NLP, ada pula hal-hal lain yang terabaikan. Ada sisi dalam diri saya yang ‘kering’, sehingga alih-alih menjadi semakin ekologis, hidup saya justru timpang. Sebuah keberhasilan justru seolah menghadirkan ‘kegagalan’ di sisi yang lain. Saat saya mampu membangun sebuah proses komunikasi dengan efektif dengan menggunakan NLP, misalnya, justru rasa berdosa seringkali muncul sebab merasa sudah memanipulasi orang lain. Saat saya membantu seseorang menghilangkan rasa bersalahnya, sebuah suara seperti menegur, “Bagaimana jika ia nanti jadi sembrono?” Dan yang jauh lebih penting adalah ketika saya bicara soal mencapai impian. Setiap kali saya menggunakan <em>wellformed outcome</em>, plus memasukkannya dalam <em>time line</em> saya, sebuah nasihat hadir dalam hati saya, “Apakah kamu mau mengatur apa yang yang sudah diatur oleh Tuhan?”</p>
<p>Wuih, yang terakhir ini nih, yang rasanya nancep bener. Belajar NLP, memang menjadikan saya begitu percaya diri dengan kemampuan diri saya. Lucunya, saya jadi lupa bahwa kemampuan ini, sejatinya adalah kemurahan dari Sang Maha Pencipta. Mengapa saya dilahirkan dalam keluarga saya sekarang? Mengapa saya diberi berbagai kemudahan untuk belajar? Mengapa saya tidak harus menjalani kehidupan yang keras di jalanan, sehingga saya terdidik sebagai orang sekolahan?</p>
<p>Nah, pertanyaan-pertanyaan itu lah antara lain yang meruntuhkan ‘kesombongan’ saya saat saya merasa bahwa nasib saya <em>hanya</em> ditentukan oleh usaha saya sendiri. Betapa kemampuan diri ini begitu kecil dibandingkan kemurahan dan pengaturan-Nya. Ketika saya ingat pernah mengatakan, “Tuh kan, orang itu berhasil saya pengaruhi dengan teknik X,” saya lupa bahwa itu pun bagian dari pengaturan-Nya yang begitu halus dan harmonis. Maka saat saya beberapa kali mengalami gempa bumi, yang dengan mudah saya atasi rasa traumanya dengan <em>submodality map accross</em>, sebuah pelajaran pun terkuak, “Mengapa saya masih bisa melakukan hal ini? Mengapa saya tidak tertimpa bangunan dan tewas seketika? Mengapa orang lain yang menjadi korban, dan bukan saya?”</p>
<p>Fiuh, betapa diri yang membanggakan diri sebagai praktisi NLP ini begitu tak berdaya jika Ia sudah berkehendak. Rupanya ilmu dalam diri ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan ilmu-Nya yang lebih luas dari langit dan bumi. Saya sudah percaya pelajaran ini sejak dahulu, namun baru kali ini saya mulai meyakininya, setelah <em>submodality</em> saya diubah tidak melalui proses teknis NLP, melainkan melalui pengalaman langsung yang sudah diatur oleh-Nya.</p>
<p>Inilah fase biasa-biasa saja yang saya maksud tadi. Fase ketika NLP ya NLP. Bagian kecil dari ilmu Tuhan yang tak terhingga. Ia jelas bukan ilmu biasa, sekaligus juga bukan ilmu yang teramat luar biasa. Ia adalah ilmu yang dihadirkan untuk menyingkapkan sebagian kecil dari kuasa-Nya. Maka jika dengan mempraktikkan NLP hidup jadi lebih mudah, sejatinya diri ini menyadari bahwa Ia lah yang telah menyingkapkan kemudahan itu. Sementara jika ‘kegagalan’ yang muncul, sesungguhnya Ia sedang mengajarkan diri ini untuk terus mengambil pelajaran (<em>feedback</em>), tidak cepat puas, mengendalikan nafsu untuk sombong, dan senantiasa mendekat kepada-Nya. Sebab sesungguhnya bukanlah NLP yang menghadirkan solusi, melainkan ilham yang Ia berikanlah yang menghadirkan solusi. Bukankah banyak orang yang tidak tahu-menahu tentang NLP mampu menemukan solusi sebaik para praktisi NLP? Bukankah NLP adalah hasil memodel para <em>expert</em>? Lalu, siapa yang menghadirkan para <em>expert</em> itu? Siapa yang mengatur mereka hidup sehingga bisa dimodel dan dipelajari oleh banyak orang?</p>
<p>Demikianlah, tiada lain selain rasa syukur, yang layak saya pelihara demi mendapati jalan yang telah diberikan Tuhan untuk menjadi praktisi NLP. NLP adalah ilmu untuk bersyukur. Sebab ‘kendali’ yang seolah kita miliki sebagai praktisi NLP terhadap nasib, sejatinya bukanlah benar-benar kendali. Kendali itu adalah kendali semu, sebab tiada satu pun hal yang terjadi di dunia ini kecuali atas izin-Nya. Kendali tersebut adalah kendali untuk mencari makna agar setiap hal hanya memunculkan 2 respon: sabar dan syukur. Sabar, ketika ia bukanlah sesuatu yang kita inginkan. Syukur, ketika ia adalah sesuatu yang kita inginkan.</p>
<p>Caranya? Bertebaran dalam NLP. Silakan mulai telusuri dari SINI.</p>
<p>Maka indikator baru yang bisa saya simpulkan dari seorang praktisi NLP tulen adalah sedalam apa rasa syukurnya, sepanjang apa rasa sabarnya. Sungguh, bukanlah sebuah kebetulan jika Anda sudah membaca sampai sejauh ini. Jauh sebelum Tuhan mengilhamkan ide penulisan dalam pikiran saya, jauh sebelum jari-jemari ini begitu lancar menulis, jauh sebelum saya menggunakan NLP untuk menyusun tulisan seperti ini, peristiwa ini sudah tertulis dalam catatan-Nya. Maka kemampuan saya ini adalah amanah, begitu juga dengan pemahaman yang baru saja Anda dapatkan.</p>
<p>Selamat menjalankan amanah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=92</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Sih NLP Itu? (Lagi)</title>
		<link>http://antzinstitute.com/?p=126</link>
		<comments>http://antzinstitute.com/?p=126#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 06:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<category><![CDATA[apa itu nlp]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[what is nlp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antzinstitute.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Masih saja mendengar pertanyaan seperti ini dari beberapa orang yang membaca tulisan saya sebelumnya, maka saya pun menggunakan jurus lain.
“OK, Anda pernah kesal?” tanya saya.
“Ya jelas pernah lah,” jawab orang tersebut.
“Coba ceritakan salah satunya.”
“Mm…terakhir kali, kesel banget tuh, sama tetangga saya.”
“Wah, bagus. Bagaimana Anda bisa kesal?”
“Ya, dia kan lagi bangun rumah. Berisik banget! Saya ingatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih saja mendengar pertanyaan seperti ini dari beberapa orang yang membaca tulisan saya sebelumnya, maka saya pun menggunakan jurus lain.</p>
<p>“OK, Anda pernah kesal?” tanya saya.</p>
<p>“Ya jelas pernah lah,” jawab orang tersebut.</p>
<p>“Coba ceritakan salah satunya.”</p>
<p><span id="more-126"></span>“Mm…terakhir kali, kesel banget tuh, sama tetangga saya.”</p>
<p>“Wah, bagus. Bagaimana Anda bisa kesal?”</p>
<p>“Ya, dia kan lagi bangun rumah. Berisik banget! Saya ingatkan agar tidak terlalu menganggung tetangga, eh, malah dia marah-marah. Naik pitam lah saya.”</p>
<p>“Maaf, yang tanyakan adalah, bukan ‘Mengapa Anda kesal?’, tapi ‘Bagaimana Anda bisa kesal?’”</p>
<p>“Loh, apa bedanya? Ya itu tadi penyebabnya.”</p>
<p>“Nah, itu dia bedanya. Saya tidak bertanya penyebabnya. Saya bertanya proses menjadi kesalnya itu.”</p>
<p>“Oh, maksudnya?”</p>
<p>“Misalnya, ada orang yang pada awalnya biasa saja, tapi begitu mendengar nama orang tuanya di sebut-sebut, maka ia tiba-tiba naik pitam. Jadi, prosesnya adalah mendengar nama orang tuanya disebut, lalu dia naik pitam. Nah, Anda bagaimana?”</p>
<p>“Oh, begitu. Ya, waktu dia bilang, ‘Dimana yang namanya bangun rumah ya berisik Pak. Kalau mau pindah rumah aja dulu,’ saya jadi naik pitam.”</p>
<p>“Apa persisnya yang membuat Anda naik pitam?”</p>
<p>“Maksudnya?”</p>
<p>“OK, coba saya yang bilang ke Anda seperti itu ya, ‘Dimana yang namanya bangun rumah ya berisik Pak. Kalau mau pindah rumah aja dulu,’ apa perasaan Anda?”</p>
<p>“Biasa aja tuh.”</p>
<p>“Nah, kalau begitu apa yang membuat perkataan itu kalau dikatakan oleh tetangga Anda lalu bisa membuat Anda naik pitam?”</p>
<p>“Ah, cara ngomongnya itu lho. Nggak ngenakin banget. Sinis gitu kayaknya. Nadanya agak tinggi lagi.”</p>
<p>“Nah, itu yang saya maksud. Itulah NLP.”</p>
<p>“Loh, kok? Apa hubungannya?”</p>
<p>“Ya banyak. NLP itu kan bagaimana Anda menggunakan bahasa atau kata-kata untuk mempengaruhi program di dalam neurologi Anda. Nah, perasaan marah, atau naik pitam itu, itu kan tidak lebih dari susunan saraf. Dan, Anda baru saja menjawab sendiri soal program. Yaitu, ketika tetangga Anda berbicara dengan cara tertentu, maka Anda merespon dengan naik pitam. Sedangkan kalau saya yang berbicara dengan kalimat yang persis sama, tapi dengan cara yang berbeda, Anda biasa saja. Bisa disimpulkan sementara ini, kalau seperti itulah salah satu cara bekerja program naik pitam Anda,” urai saya panjang kali lebar kali tinggi.</p>
<p>“Oooooh…begitu…..”</p>
<p>“Ya, begitu lah kira-kira. Nah, coba sekarang, apa program Anda untuk bahagia?”</p>
<p>“Mm…berarti, bagaimana cara saya bisa bahagia ya?”</p>
<p>“Betul!”</p>
<p>“Pengalaman terakhir kali sih, waktu maju ke panggung pas diberi penghargaan karyawan teladan.”</p>
<p>“Nah, bagaimana Anda memunculkan perasaan bahagia itu?”</p>
<p>“Mm…Waktu itu, nama saya disebut oleh pembawa acara untuk naik ke panggung. Terus, ada suara musik yang menggelegar. Tiba-tiba saya merasa luar biasa!”</p>
<p>“Aha, seperti apa rasanya?”</p>
<p>“Wah, luar biasa lah pokoknya. Tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata.”</p>
<p>Ketika saya melihat wajahnya berubah begitu drastis, saya berasumsi bahwa ia sedang terasosiasi dengan kondisi bahagia itu. Maka tanpa dia sadari, saya pun memasang sebuah <em>anchor</em> sentuhan pada lengan atas kirinya.</p>
<p>“Eh, tadi Anda tanya soal NLP kan?”</p>
<p>“Eh, iya. Sori ya Pak.”</p>
<p>“Nggak apa. OK, jadi, ketika Anda bahagia…,” saya picu <em>anchor </em>di lengan atas kirinya. Dan, seketika wajahnya berubah lagi. “Ini yang Anda rasakan? Apa yang muncul?”</p>
<p>“Wah, mantab Pak. Suara musik itu seperti terdengar lagi.”</p>
<p>“Nah, itu juga NLP.”</p>
<p>“Hah? Maksudnya?”</p>
<p>“Anda punya program bahagia. Baru saja saya lakukan sedikit modifikasi pada program tersebut, dengan memasang sebuah stimulus di lengan kiri atas Anda. Stimulus ini biasa disebut <em>anchor</em>. Fungsinya adalah pemicu untuk memunculkan sebuah kondisi pikiran-perasaan tertentu, tanpa perlu repot-repot mengingatnya kembali.”</p>
<p>“Wah, bisa begitu ya?”</p>
<p>“Tentu. Inilah yang di artikel saya sebelumnya saya maksud dengan melakukan reprogram terhadap program yang sudah ada di diri kita. Namanya kan Neuro-Linguistic Programming. Nah, kata program memiliki asumsi bahwa ia bisa diinstal, uninstal, dikode ulang, dan di-reinstal, layaknya program komputer. Program komputer itu kan merupakan model dari program dalam diri kita, <em>anyway</em>,” jelas saya lagi panjang kali lebar kali tinggi.</p>
<p>“Wah, saya mengerti sekarang. Rupanya begitu ya.”</p>
<p>“Kira-kira begitulah.”</p>
<p>“Kok kira-kira terus sih pak?”</p>
<p>“Ya, karena saya juga tidak tahu apa kah memang ini yang sebenarnya terjadi di dalam diri kita atau tidak. Yang jelas, inilah ‘buku manual’ yang coba disusun oleh NLP. Lebih spesifiknya, ini adalah <strong>pemahaman</strong> seorang Teddi terhadap ‘buku manual’ yang disusun oleh NLP. Tapi, yang paling tahu kebenarannya ya hanya Sang Pencipta lah. Karena itulah, para penggagas NLP selalu melakukan perbaikan di sana sini. Evolusi belum selesai. NLP yang sekarang beda dengan yang dulu. Bisa jadi juga beda dengan yang akan datang. Tapi, sementara ini, ya seperti inilah NLP.”</p>
<p>“Hmm…OK deh Pak kalau begitu.”</p>
<p>Nah, rekan-rekan NLPers pembaca yang budiman. Saya tidak tahu apakah Anda setuju atau tidak. Namun yang pasti saya baru benar-benar memahami sesuatu ketika ia telah saya praktikkan sendiri. Sebuah bacaan adalah stimulus bagi saya untuk mengalami dan menemukan kunci-kunci rahasianya. Maka jika Anda setuju, mengapa tidak Anda mempraktikkan saja latihan yang saya lakukan bersama seorang rekan di atas? Mari kita eksplorasi program yang kita miliki untuk memunculkan kondisi bahagia, syukur, pembelajaran yang mudah, dan…apa saya yang Anda inginkan.</p>
<p>Dan, agar pembelajaran yang Anda lakukan itu segera terinternalisasi dan memunculkan pembelajaran baru, Anda boleh menuliskan komentar Anda di bawah artikel ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antzinstitute.com/?feed=rss2&amp;p=126</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
